Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo menyatakan kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo) telah menyebabkan turunnya produksi PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) hingga 150.000 bph.
Padahal Chevron merupakan kontributor produksi minyak terbesar di Tanah Air dengan rata-rata produksi sekitar 380.000-400.000 bph.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Evita juga memperkirakan, penurunan realisasi produksi minyak tentu saja akan berpengaruh terhadap penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi.
"Untuk penurunan penerimaan saya belum tahu berapa angkanya karena kami menghitungnya bersama Kementerian Keuangan," ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) juga berpendapat lifting minyak Indonesia di tahun ini tak akan mencapai target 965 ribu barel per hari (bph). Namun hanya mencapai 960 ribu bph, dan itupun cukup berat.
"Sebesar 965.000 bph kayaknya susah. 960.000 bph saja sudah berat. Sepertinya akan di bawah 960.000 bph," ungkap Priyono.
Priyono menyatakan, pihaknya sendiri telah berupaya untuk mencapai target lifting tersebut. Salah satunya dengan melepas stok minyak mentah tiga juta barel ke spot market.
"Meski sudah lepas stok minyak, namun nampaknya sulit untuk capai target tersebut," jelasnya.
(epi/dnl)











































