"Mulai Oktober 2010 suplai agak berlebih karena orang hajatan antara lain acara pernikahan, pilkada, selamatan yang pergi haji. Ditambah lagi permintaan broiler bulan Oktober kuat sekarang mulai berkurang," kata Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo kepada detikFinance Rabu (3/11/2010)
Utoyo menambahkan kondisi ini diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat pedesaan khususnya para nelayan yang tak melaut karena ombak dan angin besar. Selain itu, kalangan konsumen di tingkat petani cenderung menyisihkan uangnya untuk pembelian kebutuhan tanaman baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal pertengahan bulan Oktober 2010 lalu, FMPI mencatat harga ayam hidup eks farm masih bertengger Rp 16.000-16.500 per kg, sementara harga daging broiler (karkas) Rp 27.000-29.000 per kg. Untuk harga telur ayam ras di tingkat distributor Rp 13.500-14.000 per kg dan harga telur eks farm Rp 12.500-13.000 per kg.
Menurut Utoyo para peternak juga harus dihadapkan dengan naiknya biaya produksi, antara lain biaya produksi ayam hidup naik menjadi Rp 13.500-14.000 per kg dan biaya produksi telur Rp 11.500-12.000 per kg.
Hal ini juga disampaikan oleh salah satu investor peternak ayam yang tak mau disebutkan namanya. Menurutnya harga ayam hidup dua minggu lalu masih mencapai Rp 15.000 per kg, sementara saat ini sudah turun drastis hingga Rp 10.000 per kg.
"Harga ayam jeblok jadi Rp 10.000 per kg, padahal dua minggu lalu masih Rp 15.000 per kg," kata investor tersebut.
(hen/dnl)











































