Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengatakan, pemerintah masih melihat kenaikan harga minyak internasional masih sementara. Namun pemerintah tak melepas kewaspadaan.
"Perkembangannya relatif dinamis. Untuk asumsi APBN, yang kita lihat itu rata-rata per tahun. Untuk 2010, saya rasa beberapa bulan itu di bawah US$ 80 per barel, dan beberapa agak sedikit di atas. Terutama karena ada dorongan peningkatan permintaan, khususnya China. Tapi kan itu masih kita harus monitor, kita pantau. Kita tidak bisa serta merta melihat fluktuasi yang jangka pendek," ujar Menteri Armida di kantornya, Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis (4/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan nanti kita lihat lagi. Kalau APBN-P 2010, sebentar lagi selesai. Saya kira bisa memenuhi target asumsi makro itu," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan. Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Hatta menilai naiknya harga minyak internasional yang telah mencapai US$ 85 per barel belum berpengaruh pada harga minyak Indonesia atau ICP (Indonesia Crude Price) karena biasanya harga ICP lebih rendah sekitar US$ 3 per barel.
Namun Hatta mengakui adanya kecenderungan harga minyak naik tetapi hal tersebut tidak serta memengaruhi APBN.
"Kalau kita lihat dari asumsi US$ 80 dan melihatnya jangan sepintas. Tahun 2010 tampaknya ada tren sedikit naik tapi belum bisa prediksi, terus naik. Namun, masih terlalu dini kalau harganya meningkat terus kalau dari sisi asumsi ICP, kita aman," tukasnya.
(nia/dnl)











































