Direktur Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian C. Triharso mengatakan hingga semester I-2010 peningkatan impor mesin sudah naik 37% dari periode yang sama tahun lalu.
"Ini terkait dengan investasi sekarang, konstruksi baja, mesin energi, turbin, mesin proses. Lebih pada kebutuhan mesin yang berputar tak permanen seperti mesin tekstil," katanya di kantor Kemenperin, Jakarta, Jumat (5/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai importasi mesin bukan baru atau bekas, Triharso menuturkan secara prinsip pemerintah mencoba mengurangi jenis mesin impor bekas yang boleh diimpor. Hal ini sedang dikoordinasikan dengan kementerian perdagangan untuk ketentuan aturan impor mesin bekas di 2011.
"Kita tidak bisa menutup, kekurangan pasok industri dan peluang investasi yang sebenarnya ada relokasi karena konsekuensinya tak beli mesin baru," katanya.
Bahkan kata dia, sampai saat ini impor mesin alat berat masih tinggi. Dari kebutuhan 10.000 unit alat berat per tahun, produksi dalam negeri hanya bisa memenuhi baru 6.000 unit per tahun.
"Memang untuk alat berat kita harapkan ada industri baru," katanya.
Saat ini ada investor asal AS dibidang alat berat yaitu Caterpillar ingin melakukan ekspansi kapasitas produksi. Namun pihak Caterpillar masih mempertimbangkan dua negara tetangga yaitu Thailand dan Vietnam karena dua negara itu menawarkan insentif tax holiday.
"Kita mau berlomba, mereka meminta tax holiday," katanya.
(hen/dnl)










































