Seperti diketahui, peringkat kemudahan berbisnis Indonesia 2011 turun ke 121, dari tahun sebelumnya di 115. Hal itu tertuang dalam laporan bertajuk Doing BusinessΒ yang dilakukan oleh anak usaha Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC).
"Sudah banyak kemajuan tapi negara lain yang lebih cepat. Jadi, kita kalah dalam hal kecepatan mendorong pertumbuhan dan perkembangan UKM," tegas Ketua Umum BPPΒ HIPMI Erwin Aksa dalam siaran persnya, Minggu (7/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, terang Erwin, pertumbuhan UKM di negara-negara emerging marketΒ seperti Brasil, China, dan India terbilang sangat pesat.
"Ada semacam gelombangΒ bangkitnya kewirausahaan yang dipelopori anak-anak muda di negara-negara itu," tambah Erwin.
Oleh sebab itu, kata Erwin,Β untuk bisa bersaing, RI harus melihat danΒ menjadikan perkembangan UKM di luar negeri sebagai patokan dalam memetakanΒ kemajuan pelayanan terhadap UKM. Pantauan HIPMI Research Center menunjukan,Β beberapa pemerintah daerah dan kota sudah memberikan pelayanan yang ideal kepadaΒ pelaku UKM misalnya, Yogyakarta, Klaten, Sragen, Parigi (Sulawesi Tengah), Gorontalo, dan Palembang.
"Namun ini baru sebagian kecil kepala daerah yangΒ berinisiatif meningkatkan daya saing UKM," imbuh Erwin.
Erwin mengingatkan, peringkat daya saing UKM RI ke depan akan terancam olehΒ masalah rendahnya pasokan listrik, inefisiensi birokrasi, dan mahalnya biayaΒ modal (cost capital).
"Ancamannya ini. Jadi, harus ada keberpihakan yang lebihΒ serius lagi kepada pelaku UKM," tambahnya.
Dia mencontohkan, laba perbankan nasional pada kuartal III-2010 bisa tumbuh diΒ atas 25%. Namun kredit yang belum cair juga sama-sama meningkat tajam.Artinya, sektor keuangan RI belum sinkron dengan sektor riil.
"Penurunan bungaΒ juga tidak cukup berarti. Padahal tahun depan kita harus waspadai inflasi," tambah Erwin.
Terlebih, lanjut dia, penilaian terendah oleh IFC bagi layanan kepada UKM di RI adalah pada akses kredit. "Di tengah membaiknya kinerja perbankan kita, kok malahΒ masyarakat makin sulit mengakses kredit," tegas Erwin.
HIPMI meminta agarΒ pemerintah terus menyosialisasikan KUR ke masyarakat. Sebab peran KUR dinilaiΒ sangat strategis dalam membantu pelaku UKM mengakses lembaga keuangan.
Sebelumnya diberitakan,Β peringkat Indonesia dalam hal kemudahan berbisnis bagiΒ pelaku UKM lokal memburuk. Bahkan, peringkat RI dalam kemudahan berbisnis untukΒ UKM lokal bahkan hampir sejajar dengan negara-negara kecil di Afrika. RI berada di peringkat ke-121 dalam hal kemudahan berbisnis untuk wiraswastaΒ lokal. Padahal pada 'Doing Business 2010', Indonesia berada di peringkat 115.
Ironisnya, ditengah membaiknya kinerja industri perbankan, dari 9 penilaianΒ 'Doing Business 2011', Indonesia tercatat mengalami penurunan paling buruk dariΒ sisi akses kredit. Sementara poin yang membaik adalah permulaan bisnis.
(qom/qom)










































