RI Kalah Cepat dari Negara Lain Soal Dorongan UKM

RI Kalah Cepat dari Negara Lain Soal Dorongan UKM

- detikFinance
Minggu, 07 Nov 2010 09:37 WIB
RI Kalah Cepat dari Negara Lain Soal Dorongan UKM
Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai sebenarnya kemajuan yang dibuat Indonesia untuk mendorong UKM sudah banyak, meski peringkat kemudahan berbisnis untuk pelaku usaha kecil menengah (UKM) Indonesia (RI) menurun. Hanya saja dorongan yang diberikan Indonesia ternyata lebih lamban dibanding negara lain.

Seperti diketahui, peringkat kemudahan berbisnis Indonesia 2011 turun ke 121, dari tahun sebelumnya di 115. Hal itu tertuang dalam laporan bertajuk Doing BusinessΒ  yang dilakukan oleh anak usaha Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC).

"Sudah banyak kemajuan tapi negara lain yang lebih cepat. Jadi, kita kalah dalam hal kecepatan mendorong pertumbuhan dan perkembangan UKM," tegas Ketua Umum BPPΒ  HIPMI Erwin Aksa dalam siaran persnya, Minggu (7/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Erwin mengatakan, belajar dari dua krisis sebelumnya (1998 dan 2008), sejumlah negara kian sadar bahwa peranan UKM sangat strategis dalam mempertahankanΒ  pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, negara-negara tersebut, termasuk Amerika Serikat, mempercepat layanan paket-paket insentif terhadap pelaku UKM.

Selain itu, terang Erwin, pertumbuhan UKM di negara-negara emerging marketΒ  seperti Brasil, China, dan India terbilang sangat pesat.

"Ada semacam gelombangΒ  bangkitnya kewirausahaan yang dipelopori anak-anak muda di negara-negara itu," tambah Erwin.

Oleh sebab itu, kata Erwin,Β  untuk bisa bersaing, RI harus melihat danΒ  menjadikan perkembangan UKM di luar negeri sebagai patokan dalam memetakanΒ  kemajuan pelayanan terhadap UKM. Pantauan HIPMI Research Center menunjukan,Β  beberapa pemerintah daerah dan kota sudah memberikan pelayanan yang ideal kepadaΒ  pelaku UKM misalnya, Yogyakarta, Klaten, Sragen, Parigi (Sulawesi Tengah), Gorontalo, dan Palembang.

"Namun ini baru sebagian kecil kepala daerah yangΒ  berinisiatif meningkatkan daya saing UKM," imbuh Erwin.

Erwin mengingatkan, peringkat daya saing UKM RI ke depan akan terancam olehΒ  masalah rendahnya pasokan listrik, inefisiensi birokrasi, dan mahalnya biayaΒ  modal (cost capital).

"Ancamannya ini. Jadi, harus ada keberpihakan yang lebihΒ  serius lagi kepada pelaku UKM," tambahnya.

Dia mencontohkan, laba perbankan nasional pada kuartal III-2010 bisa tumbuh diΒ  atas 25%. Namun kredit yang belum cair juga sama-sama meningkat tajam.Artinya, sektor keuangan RI belum sinkron dengan sektor riil.

"Penurunan bungaΒ  juga tidak cukup berarti. Padahal tahun depan kita harus waspadai inflasi," tambah Erwin.

Terlebih, lanjut dia, penilaian terendah oleh IFC bagi layanan kepada UKM di RI adalah pada akses kredit. "Di tengah membaiknya kinerja perbankan kita, kok malahΒ  masyarakat makin sulit mengakses kredit," tegas Erwin.

HIPMI meminta agarΒ  pemerintah terus menyosialisasikan KUR ke masyarakat. Sebab peran KUR dinilaiΒ  sangat strategis dalam membantu pelaku UKM mengakses lembaga keuangan.

Sebelumnya diberitakan,Β  peringkat Indonesia dalam hal kemudahan berbisnis bagiΒ  pelaku UKM lokal memburuk. Bahkan, peringkat RI dalam kemudahan berbisnis untukΒ  UKM lokal bahkan hampir sejajar dengan negara-negara kecil di Afrika. RI berada di peringkat ke-121 dalam hal kemudahan berbisnis untuk wiraswastaΒ  lokal. Padahal pada 'Doing Business 2010', Indonesia berada di peringkat 115.

Ironisnya, ditengah membaiknya kinerja industri perbankan, dari 9 penilaianΒ  'Doing Business 2011', Indonesia tercatat mengalami penurunan paling buruk dariΒ  sisi akses kredit. Sementara poin yang membaik adalah permulaan bisnis.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads