Suswono mengatakan harga seekor sapi bisa diganti oleh pemerintah hingga harga Rp 10 juta per ekor sementara santunan korban jiwa akibat letusan Merapi hanya mendapat Rp 4 juta per orang.
Hal inilah yang terkesan harga manusia lebih murah dari seekor sapi, padahal sejatinya manusia tak bisa dihargai nilainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya soal penanganan bencana Merapi ini sangat komplek, mulai dari masalah evakuasi manusia hingga evakuasi ternak masyarakat.
Misalnya soal ikatan antara petani dengan ternaknya yang begitu tinggi, sehingga membutuhkan penanganan khusus termasuk memberikan ketenangan pada masyarakat dengan mengganti sapinya dengan uang.
Menurutnya pemerintah telah menganggarkan Rp 100 miliar khusus untuk mengganti ternak sapi masyarakat korban Merapi. Hal ini juga untuk mencegah masyarakat menjadi korban ulah pedagang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kemarin karena panik sapi cuma dihargai Rp 3-4 juta. Keadaan seperti itulah yang dimanfaatkan pedagang," katanya.
Menurutnya dengan anggaran pemerintah yang hanya Rp 100 miliar tak akan sanggup membayari semua sapi masyarakat yang masih hidup, mati maupun yang luka-luka.
Data terakhir hingga 7 November 2010 jumlah sapi yang berpotensi untuk dibeli pemerintah mencapai 61.884 ekor khusus untuk wilayah 10 km, belum dihitung dari wilayah hingga radius 20 km.
"Mudah-mudahan hanya 20%," katanya.
Pemerintah juga tidak hanya mengandalkan proses pergantian sapi masyarakat namun membantu mengevakuasi sapi bersama pemiliknya dengan memberikan bantuan pakan ternak.
Sehingga sambil mengungsi ternak yang dimiliki masyarakat masih bisa bersama petani, dengan demikian biaya penggantian bisa lebih dihemat.
"Masyarakat sebenarnya tak mau menjual sapinya," katanya.
Berdasarkan data sementara di wilayah Slemen sapi yang mati sudah mencapai 296 sapi, Klaten 21 sapi.
Sementara ditemukan juga sapi-sapi yang kondisinya luka-luka, rencananya akan tetap dibayar oleh pemerintah. Sapi-sapi itu akan dihibahkan ke perguruan tinggi untuk kegiatan praktik.
(hen/dnl)











































