Batalnya pembiayaan ini karena tak adanya titik temu antara Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) dalam hal proses seleksi waralaba siap ekspor dengan bank spesialis ekspor bentukan pemerintah tersebut.
"Awalnya program ini (ekspor waralaba) akan dibantu pendanaanya oleh LPEI, namun sangat disayangkan bantuan tersebut tidak terwujud karena ternyata LPEI hanya bermaksud menyalurkan kredit ekspornya saja atau hanya mau terima beres," kata Penasehat Wali Amir Karamoy di acara Franchise and License Indonesia Expo 2010, di JCC, Jakarta, Jumat (12/11/2010)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proses seleksi dibutuhkan keahlian khusus misalnya audit sistem dan program waralaba, audit hukum dan perjanjian waralaba terkait dengan hak kekayaan intelektual, serta audit manajemen keuangan," katanya.
Sehingga secara tegas, Amir menyayangkan langkah yang diputuskan Exim Bank. Padahal kata dia, sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah dan berkepentingan dengan ekspor sudah sepantasnya Exim Bank membantu upaya ekspor waralaba.
"LPEI memang harus disentil, harusnya sebagai lembaga pembiayaan ekspor mereka yang berkepentingan mendorong ekspor," tegas Amir.
Dengan demikian, setelah ini Amir tetap optimistis perbankan lain di luar LPEI siap membiayai ekspor waralaba. Misalnya pihaknya telah berbicara kepada Deputi Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulya Siregar untuk memfasilitasi ekspor waralaba.
"IB (Islamic Bank) siap mendukung," kata Amir.
Sebelumnya pada tanggal 16 Juni 2010 pihak Kadin termasuk di dalamnya Wali menandatangani MoU dengan Indonesia Exim Bank, terkait komitmen pembiayaan ekspor kepada para waralaba yang siap go international.
Pada waktu ituย Indonesia Eximbank menyiapkan setidaknya Rp 1 triliun untuk pembiayaan ekspor waralaba pada tahun 2010 ini.
"Perhitungan pembiayaan tergantung kebutuhan, kalau di kita UMKM itu skemanya sampai Rp 50 miliar," kata Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank Djoko S. Djamhoer di kantor Kadin, Jakarta, Rabu (16/6/2010).
Dikatakannya dari 20 waralaba yang akan diekspor pada tahun ini, jika dihitung kebutuhannya Rp 50 miliar, maka paling tidak Eximbank harus menyiapkan kurang lebih Rp 1 triliun.
"Prinsipnya kita siapkan berapa pun asalkan feasible," katanya.
(hen/dnl)











































