Nilai Perdagangan APEC Tembus US$ 6,2 Triliun Per Tahun

Laporan dari Jepang

Nilai Perdagangan APEC Tembus US$ 6,2 Triliun Per Tahun

- detikFinance
Senin, 15 Nov 2010 06:45 WIB
Nilai Perdagangan APEC Tembus US$ 6,2 Triliun Per Tahun
Yokohama - Pertumbuhan perdagangan dan investasi di negara-nagara anggota APEC meningkat sangat pesat. Selama periode 1994-2009, total nilai perdagangan di kawasan ini naik 5 kali lipat dari US$ 1,2 triliun menjadi US$ 6,2 triliun per tahun.

"Aliran penanaman modal asing langsung yang masuk kawasan APEC selama periode yang sama juga naik tiga kali lipat menjadi US$ 1,2 triliun per tahun," kata Wakil Presiden Boediono usai menghadiri penutupan KTT APEC di Yokohama, Jepang, Minggu (14/11/2010).

Wapres menyampaikan data tersebut ketika sudah berada di Tokyo yang berjarak 1 jam perjalanan dari Yokohama. Wapres menggelar jumpa pers bersama sejumlah menteri di bidang ekonomi di The Prince Park Tower Hotel, Tokyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, secara rata-rata, tarif bea masuk di kawasan APEC juga sudah turun dari 16,9 persen tahun 1994 menjadi 6,6 persen pada tahun 2008. Sementara rata-rata tarif bea masuk di Indonesia pada 2010 ini sekitar 6 persen.

Kendati demikian, lanjut Wapres, APEC merasa perlu melakukan evaluasi karena tahun 2010 ini adalah salah satu milestone atau tonggak capaian yang ditetapkan dalam "Bogor Goals". Bogor Goals adalah hasil kesepakatan KTT APEC di Bogor tahun 1994.

"Pada tahun 2010 ini, anggota APEC yang sudah maju sudah harus menerapkan liberalisasi perdagangan dan investasi, sedangkan untuk negara berkembang targetnya adalah tahun 2020," katanya.

Ke depan, lanjut Wapres, APEC diharapkannya harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang sangat pesat dalam tataran global. Perubahan itu antara lain ditunjukkan dengan pola hubungan regional. Dahulu hanya ada dua pengelompokan negara berkembang dan maju. Sekarang ini sudah ada emerging economies atau kekuatan ekonomi baru seperti negara-negara BRIC.

"Untuk membuat APEC tetap relevan dan berperan besar di masa mendatang, Indonesia menekankan pentingnya kerjasama ekonomi dan peningkatan kapasitas industri masing-masing anggotanya," ujar Boediono.

(irw/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads