Negara Asia Pimpin Pertumbuhan Ganda Ekonomi Dunia

Negara Asia Pimpin Pertumbuhan Ganda Ekonomi Dunia

- detikFinance
Selasa, 16 Nov 2010 11:14 WIB
Negara Asia Pimpin Pertumbuhan Ganda Ekonomi Dunia
Jakarta - Peta kekuatan ekonomi dunia kini tak lagi sama. Pertumbuhan optimal ekonomi lebih banyak dialami oleh negara timur, ketimbang negara barat yang dulunya menguasai di era sebelum tahun 2000.

Pertumbuhan ekonomi tinggi (super-cycle) lebih banyak terjadi pada negara-negara Asia. Hal ini menyebabkan, ekonomi dunia bakal mencapai US$ 300 triliun pada dekade mendatang.

Pergeseran peta kekuatan ekonomi ke negara Asia ini disampaikan dalam laporan riset Standard Chartered PLC terbaru oleh Chief Economist and Group Head of Global Research, Dr. Gerard Lyons, yang dikutip detikFinance, Selasa (16/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Standard Chartered, negara-negara berkembang akan mencapa super-cycle lebih baik ketimbang negara maju. Ini menjadikan keseimbangan kekuatan ekonomi dunia akan bergeser tegas dari Barat ke Timur. Perekonomian pada 2030 pun diprediksi bisa mencapai US$ 300 triliun, naik dari posisi saat ini US$ 62 triliun.

Lalu bagaimana pertumbuhan yang cukup tinggi ini bisa terjadidi Asia? Menurut riset tersebut, pertumbuhan yang tinggi terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan perdagangan, khususnya di negera berkembang. Selain itu, industrialisasi juga tumbuh diikuti dengan urbanisasi dan peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah di emerging market, khususnya Asia.

Asia diprediksi akan mendorong secara dominan pertumbuhan dunia selama 20 tahun ke depan. Kajian Standard Chartered menilai, output dunia secara konservatif tumbuh lebih dari dua kali lipat secara riil.

Tingkat pertumbuhan ekonomi China khususnya, akan naik jadi 6,9 persen selama dua dekade mendatang yang berarti akan melampaui Amerika Serikat. Dan pertumbuhan ekonomi India naik 9,3 persen dalam periode yang sama dan akan menduduki tiga besar ekonomi dunia setelah AS pada tahun 2030.

Super-cycle kini mulai berganti pada awal abad 21 hingga 2030 dan pertumbuhan beraliha ke pasar negara berkembang, yang memiliki banyak penduduk seperti India, China, Indonesia, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin. Manusia cenderung untuk memasuki global workforce, mengendalikan urbanisasi, tingkat investasi yang tinggi dan inovasi teknologi.

Sementara super-cycles sebelumnya didorong oleh populasi penduduk yang relatif kecil di negara barat. Super-cycle masa kini akan melibatkan 85 persen dari populasi dunia.

Dalam hasil kajiannya, Standard Chartered menyampaikan bagi investor jangka panjang pertumbuhan ekonomi tinggi mengacu pada alokasi modal yang lebih besar
ke ekuitas, khususnya dari pertumbuhan kuat di pasar negara berkembang dan pertumbuhan kelas menengah. Ekuitas, komoditi dan investasi properti juga cenderung berkembang dari aset pendapatan tetap.

Menurut Gerard Lyons, super-cycle merupakan tema besar yang pernah hangat dibicarakan yaitu New World Order. New World Order sendiri menggambarkan pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi dan keuangan dari Barat ke Timur.

"Sebuah super-cycle dibangun berdasarkan pada konsep tersebut, yang mencerminkan potensi terbalik dalam hal pertumbuhan global yang kuat," ujarnya.

(wep/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads