Gubernur Riau, Rusli Zainal mengungkapkan hal itu kepada wartawan, Kamis (18/11/2010) di Pekanbaru. Menurut Rusli, dengan luas perkebunan sawit 2,6 juta hektar, maka setiap tahunnya Riau memproduksi CPO 28,2% dari seluruh produksi di Indonesia.
Saat ini di Riau terdapat 145 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang selama ini lebih memilih menjual CPO-nya ke luar negeri. Penjualan CPO ke luar negeri ini terpaksa dilakukan karena di Riau belum maksimal memiliki pabrik pengolaan turunan CPO yang memiliki nilai jual tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusli menyebut, data secara nasional, Indonesia mengekspor CPO sebanyak 6,6 juta ton pada tahun 2008 dengan total nilai CPO mentah Rp 28 triliun. Akan tetapi nilai impor industri turunan CPO yang masuk ke Indonesia harganya lebih besar lagi dari nilai ekspor.
"Karena itu Riau yang sudah dicanangkan sebagai kawasan cluster sejak tahun 2005 lalu, harus segara terwujud. Saat ini memang sudah ada produksi turunan sawit yang dikelola di Dumai. Namun volumenya belum begitu besar," kata Rusli.
Dengan pencanangan kawasan cluster itu, untuk mendukung semua langkah itu, Pemprov Riau memfokuskan dalam perbaikan infrastruktur. Terutama memperbaiki kondisi jalan nasional yang kini banyak rusak.
Kondisi jalan nasional yang menghubungkan kekawasan cluster ke Kuala Enok dan Dumai sangat memprihantinkan. Jalan yang seharusnya perbaikannya menjadi beban APBN itu kini banyak yang hancur.
"Bila kondisi ini terus dibiarkan, ini akan menghambat jalannya Riau sebagai kawasan cluster. Karena masalah jalan nasional yang rusak ini merupakan akses jalan utama untuk angkutan CPO," kata Rusli.
(cha/dnl)










































