Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (18/11/2010).
"Dalam jangka pendek apresiasi ini memang positif, harga murah, lebih friendly, tidak ada tekanan," ujarnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita mengantisipasi yang sifatnya jangka panjang. Nanti menganggu juga karena mengganggu pencapaian perekonomian yang tinggi. Nanti akan menghambat ekspor, banjir barang impor," jelasnya.
Sampai saat ini, lanjut Rusman, BPS belum melihat dampak negatif dari apresiasi rupiah tersebut. Kenyamanan akibat penguatan rupiah ini akan dirasakan hingga akhir tahun ini.
"Kalau sampai akhir tahun kan tinggal 2 bulan lagi, tandanya masih jangka pendek jadi belum melihat (dampak negatif dari penguatan rupiah)," ujarnya.
Namun jika dibiarkan rupiah terapresiasi terus-menerus, lanjut Rusman, dampak jangka panjang akan terasa. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengelola apresiasi rupiah tersebut supaya tidak menganggu perekonomian.
Caranya dengan mempertahankan ekspor dan mengurangi impor, seperti yang disampaikan Presiden AS Barack Obama saat kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu.
"Obama kan waktu itu sempat mengatakan akan melipatgandakan ekspor dan membatasi impor. Nah, berkepentingan kita atas warning Amerika tersebut," tandasnya.
(nia/dnl)











































