Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, untuk memecahkan masalah tersebut, ia mengundang investor dari China yaitu Hi Tech Group Corporation. Perusahaan gruop ini membawahi sembilan perusahaan dibidang pertekstilan termasuk produsen mesin pintal.
"Saya minta mereka bertahap masuk secara lima tahun. Mereka seminggu melakukan survei seluruh kluster industri di Pulau Jawa. Lalu mereka akan datang lagi ke saya," katanya di kantornya, Senin (22/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena yang dominan sekarang hanya perdagangan, dan khusus untuk sektor industri pembuataan mesin tekstil," katanya.
Hidayat menuturkan akan memfasilitasi upaya investasi ini, hal iniΒ karena banyak industri tekstil Indonesia yang masih mengimpor dari China sedangkan sisanya dari Eropa dan Jepang. Dengan adanya investasi maka volume impor mesin tekstil termasuk spindle bisa ditekan.
"Saya akan perjuangkan ke pemerintah supaya itu dikasih fiskal dan non fiskal. Ini hasil pembicaraan saya di Beijing," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Delegasi produsen mesin asal China, Maoxin YE berjanji akan segera merespon permintaan pemerintah maupun pelaku industri TPT di Indonesia. Diakuinya Indonesia merupakan pangsa pasar terbesar untuk produk-produk mesin buatan mereka.Β Β
"Kami siap mentransfer teknologi yang kita miliki. Untuk bangun pabrik disini kita minta diperlakukan khusus," kata Maoxin.
Sementara itu Direktur Aneka Dirjen Manufaktur Kemenperin Budi Irmawan mengatakan potensi pasar mesin pintal Indonesia mencapai 20 juta unit. Sementara China, sebagai salah satu produsen produk tekstil di dunia memiliki 100 juta unit mesin pintal.
Artinya jika saat ini baru terdapat 8 juta unit mesin pintal di Indonesia, pasar yang masih terbuka mencapai 12 juta unit. Sementara dari sisi China, sendiri jika berhasil meraih pasar Indonesia secara menyeluruh potensinya bisa mencapai 14 juta unit, termasuk 2 juta unit yang sudah terjual di Indonesia.
"Jika 14 juta unit mesin pintal tercapai dari delagasi BUMN Tiongkok yang tergabung dalam Hi Tech Corporation. Mereka berniat menjajaki invesyasi mesin pintal di Indonesia," tambah Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat.
Selama ini harga satu mesin atau satu mata pintal asal China rata-rata dijual hanya US$ 100 per mata pintal. Jika Indonesia membutuhkan 1,2 juta unit mata pintal setidaknya membutuhkan dana sebesar US$ 1,2 miliar untuk impor.
(hen/ang)











































