Hal ini disampaikan oleh VP Corporate Communication Pertamina M. Harun kepada detikFinance, Rabu (24/11/2010).
"Taksi ini kan sudah menjadi industri tersendiri, apalagi untuk yang kelasnya premium atau kelas atas. Mereka kami minta untuk diarahkan juga menggunakan bensin non premium. Kita lihat masak taksi pakai mobil Mercy dan Alphard tapi pakai bensin premium," ujar Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau angkot saya rasa tidak masalah, karena itu untuk kepentingan rakyat kecil banyak. Yang memang berhak menerima subsidi. Kalau taksi eksekutif kan bayarnya mahal, dan cuma orang berduit yang bisa naik," jelas Harun.
Harun mengatakan, jika ada 10 ribu taksi di Indonesia dan dia mengkonsumsi premium 30 liter per hari, maka dalam sehari sudah 300 ribu liter premium yang dihabiskan untuk taksi ini.
"Dalam sebulan sudah 9.000 KL habis untuk taksi, dan itu jumlah yang besar. Jadi kalau bisa pemerintah nanti juga memilah untuk plat kuning ii," tukas Harun.
Seperti diketahui, pemerintah akan mulai menerapkan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi untuk mobil di atas tahun 2005. Hal itu dilakukan seiring terus meningkatnya konsumsi BBM akibat meningkatnya pertumbuhan kendaraan. Akibatnya, konsumsi BBM pada tahun 2010 ini saja sudah melebihi jatah APBN.
Untuk tahun ini saja, konsumsi BBM diprediksi melonjak menjadi 38 juta kiloliter, di atas jatah APBN 2010 sebanyak 36,5 juta kiloliter. Tanpa pembatasan BBM bersubsidi pada tahun 2011, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memperkirakan konsumsi akan meningkat lagi sebanyak 10%.
(dnl/qom)











































