Pembatasan BBM Bersubsidi Mulai 2011 Bisa Picu Aksi Borong

Pembatasan BBM Bersubsidi Mulai 2011 Bisa Picu Aksi Borong

- detikFinance
Kamis, 25 Nov 2010 07:57 WIB
Jakarta - Rencana pembatasan konsumsi BBM bersubsidi yang akan dilakukan pemerintah mulai 2011 dikhawatirkan bisa memicu aksi borong yang pada akhirnya akan menyebabkan kelangkaan. Karena itu, pemerintah harus membuat langkah antisipasi agar tidak terjadi aksi borong BBM bersubsidi itu.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas  Bumi (Hiswana Migas) Migas Eri Purnomohadi kepada detikFinance, Kamis  (25/11/2010).

"Pembatasan BBM subsidi ini bahasanya sangat tidak welcome di masyarakat, karena masyarakat kita ini tidak sederhana. Kalau judulnya  pembatasan, maka masyarakat ditakutkan akan melakukan aksi pemborongan. Jadi responsnya bisa negatif," jelas Eri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pengusaha SPBU yang tergabung di Hiswana ini meminta pemerintah untuk mengganti kata pembatasan menjadi pengaturan konsumsi BBM bersubsidi. Sehingga masyarakat dapat mengerti dan tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan kericuhan.

Eri menyampaikan, dirinya takut dengan pembatasan masyarakat akan memborong premium seperti yang terjadi di Jawa Timur beberapa waktu lalu. Isu kelangkaan BBM membuat masyarakat ramai-ramai membeli BBM sebanyak-banyaknya sehingga stok BBM di SPBU menjadi langka.

"Namun penjual eceran di sebelah SPBU malah punya stok BBM yang dijual  dengan harga lebih mahal. Ini harus diwaspadai," jelas Eri.

Pemerintah menyiapkan 2 opsi untuk mekanisme pengaturan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada tahun depan. Opsinya antara larangan  menggunakan BBM bersubsidi untuk semua mobil plat hitam atau mobil di atas tahun 2005.

Hal itu dilakukan seiring terus meningkatnya konsumsi BBM akibat meningkatnya pertumbuhan kendaraan. Akibatnya, konsumsi BBM pada tahun 2010 ini saja sudah melebihi jatah APBN.

Untuk tahun ini saja, konsumsi BBM diprediksi melonjak menjadi 38 juta  kiloliter, di atas jatah APBN 2010 sebanyak 36,5 juta kiloliter. Tanpa pembatasan BBM bersubsidi pada tahun 2011, Menko Perekonomian Hatta  Rajasa memperkirakan konsumsi akan meningkat lagi sebanyak 10%.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads