Demikian hasil laporan BP Migas dalam rapat dengan Komisi VII DPR, Kamis (25/11/2010).
Dari laporan tersebut, bahkan jumlah produksi minyak rata-rata Indonesia menurun. Pada kuartal I, rata-rata produksi mencapai 954 ribu bph, hingga kuartal II meningkat jadi 959,8 ribu bph, di kuartal III turun menjadi 956,49 ribu bph, dan sampai November turun lagi menjadi 949,3 ribu bph.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, produksi Kangean Energy di Lapangan Sepanjang terhenti karena ledakan FSO 'Gagasan Perak' di akhir Agustus yang berpotensi menghilangkan produksi harian 2.000 bph atau 550 bph rata-rata setahun.
Lalu produksi dari anjungan KE-40 Kodeco terhenti karena tertabrak kapal pada 12 Agustus 2010, yang berpotensi menghilangkan produksi 1.600 bph atau 625 bph rata-rata setahun.
Selain itu juga ada faktor ketidakmampuan pengambilan minyak banyu Urip oleh kilang TWU menyebabkan kehilangan kesempatan produksi sampai 6.000 bph yang apabila dirata-ratakan setahun dapat mencapai 3.125 bph.
(dnl/qom)











































