Perdagangan RI-Korsel Defisit

Perdagangan RI-Korsel Defisit

- detikFinance
Rabu, 01 Des 2010 14:40 WIB
Perdagangan RI-Korsel Defisit
Jakarta - Kisruh Korea Selatan-Korea Utara berpotensi menghilangkan surplus perdagangan Indonesia. Selama ini, Korsel menyumbang surplus perdagangan Indonesia, terbesar kedua terbesar setelah Amerika.

"Untuk Oktober ini defisit luar biasa dengan Korea Selatan. Biasanya kita surplus," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Rabu (1/12/2010).

Berdasarkan data BPS, pada Oktober terjadi defisit perdagangan Indonesia-Korea Selatan sebesar US$ 19,5 juta. Namun secara keseluruhan dari Januari hingga Oktober, masih terjadi surplus. Ekspor non migas RI ke Korsel tercatat sebesar US$ 5,5 miliar selama Januari-Oktober, sementara impor non migas Indonesia dari Korea US$ 4,516 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rusman menegaskan, terjadinya defisit perdagangan itu memang belum jelas apa penyebabnya sehingga sama sekali tidak terkait dengan konflik di Semenanjung Korea yang baru terjadi pada akhir November.
Β 
"Tidak ada penjelasan yang sangat kuat karena itu kalau kita kaitkan. Itu kan baru pertengahan November, ini perdagangan Oktober, jadi belum ada cerita memanasnya situasi Semenanjung Korea," tegasnya.

Namun, Rusman menilai fenomena ini jika terus berlanjut akan memberikan potensi kehilangan surplus perdagangan Indonesia. Pasalnya, Korea Selatan merupakan negara kedua terbesar pemberi surplus terhadap perdagangan Indonesia setelah Amerika Serikat.

"Ini masih fenomena sesaat, ada pengaruhnya sedikit. Kita berharap cepet selesai, tuntas kembali normal. Efek dominonya karena Korsel penyumbang surplus perdagangan kedua setelah Amerika. Kalau terganggu maka kehilangan surplus," tandasnya.

(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads