Hal ini disampaikan oleh Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad di sela-sela Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) di Nusa Dua Bali, Kamis (2/12/2010)
"Kalau melihat kondisi sekarang ini dari iklim yang tak mendukung, permintaan dunia meningkat kita harapkan akan naik bisa US$ 1200 per ton di akhir tahun," kata Asmar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk proyeksi tahun depan, ia belum bisa memperkirakan sejauh mana harga CPO bergerak. Namun kata Asmar, faktor iklim yang tak menentu di berbagai belahan dunia seperti Eropa akan menentukan kenaikan harga CPO.
"Tahun depan sangat tergantung iklim," katanya.
Ia juga mengatakan kenaikan harga CPO saat ini sangat membuat para petani senang meski tak bisa menikmati secara penuh. Pasalnya dari harga tandan buah segar (TBS) saat ini yang mencapai Rp 1760 per kg, namun petani hanya menjualnya Rp 1300 per Kg.
"Petani senang, walaupun yang untung itu pedagang perantara, kita kan tak punya pabrik. Jadi ada disparistas Rp 400," katanya.
Melihat ini, ia tak terlalu mempermasalahkan karena dari kenaikan harga sawit saat ini paling tidak bisa dinikmati banyak pihak termasuk pedagang perantara. Kedepannya ia berharap, para petani sawit di Indonesia yang memiliki lahan kurang lebih 3,2 juta hektar bisa memiliki pabrik sehingga nilai tambah dan kesejahteraan petani bisa meningkat.
"Dengan mempertimbangkan produksi kita masih membutuhkan 100 PKS (pabrik kelapa sawit). Satu pabrik dengan kapasitas produksi 30 TBS per jam membutuhkan investasi Rp 80 miliar. Ini lah yang sedang kita pikirkan," jelasnya.
Saat ini kata dia, dari 608 PKS yang tergabung dalam asosiasi pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki), ada juga sebanyak 102 unit PKS yang diluar gapki yang tak memiliki kebun namun mengolah sawit hasil kebun sawit petani.
(hen/qom)










































