PT Pertamina (Persero) menyatakan wilayah Jabodetabek akan jadi incaran pertama kebijakan pembatasan BBM subsidi pada 1 Januari 2011. Ini dilakukan karena SPBU di wilayah ini paling siap untuk menyediakan BBM non subsidi.
Demikian disampaikan Direktur Pemasaran PT Pertamina Djaelani Sutomo di kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (2/12/2010).
"Tahap pertama seluruh Jabodetabek per 1 Januari 2011. jadi begitu Perpres dikeluarkan, Jabodetabek akan langung dibatasi," ujar Djaelani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim mengatakan, saat ini pihaknya sebagai pengendali, pengatur, dan pengawas distribusi BBM subsidi telah melakukan sosialisasi kepada pengusaha SPBU di Jawa dan Bali.
"Pertamina diminta melaporkan rencana BBM subsidi 2011 pada dasarnya kita sudah sosialisasi ke pengusaha SPBU di Jawa-Bali, sosialisasi sudah mulai. Dari infrastruktur di Jabodetabek, sudah tersedia seluruhnya BBM non subsidi," ujar Ibrahim.
Dari 2 opsi pembatasan konsumsi BBM subsidi yang dikaji pemerintah, BPH Migas sudah melakukan persiapan untuk larangan BBM subsidi untuk semua mobil plat hitam.
"Teknisnya, petugas SPBU melihat kondisi mobil secara fisik dari platnya kuning atau tidak. Plat hitam tidak boleh isi BBM subsidi kecuali plat kuning. Sepeda motor bisa di mana pun," tukas Ibrahim.
Seperti diketahui, pemerintah menyiapkan 2 opsi untuk mekanisme pengaturan konsumsi BBM bersubsidi pada tahun depan. Opsinya antara larangan menggunakan BBM bersubsidi untuk semua mobil plat hitam atau mobil di atas tahun 2005.
Hal itu dilakukan seiring terus meningkatnya konsumsi BBM akibat meningkatnya pertumbuhan kendaraan. Akibatnya, konsumsi BBM pada tahun 2010 ini saja sudah melebihi jatah APBN.
Untuk tahun ini saja, konsumsi BBM diprediksi melonjak menjadi 38 juta kiloliter, di atas jatah APBN 2010 sebanyak 36,5 juta kiloliter. Tanpa pembatasan BBM bersubsidi pada tahun 2011, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memperkirakan konsumsi akan meningkat lagi sebanyak 10%. (dnl/ang)











































