Malaysia Dekati 13 Pengusaha 'Kakap' Indonesia

Malaysia Dekati 13 Pengusaha 'Kakap' Indonesia

- detikFinance
Jumat, 03 Des 2010 20:50 WIB
Jakarta - Pemerintah Malaysia membuka diri akan investasi yang lebih besar dari Indonesia. Mereka menawarkan 131 proyek yang masuk dalam agenda transformasi bisnis Malaysia, kepada pengusaha Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung, β€Žβ€‹Wakil Perdana Menteri Malaysia YAB Tan Sri Dato Muhyiddin Yassin langsung datang dan menemui langsung para pengusaha dan memperkenalkan wajah baru ekonomi negara Jiran tersebut. Bahkan, Chairul Tanjung, bos Para Grup mengakui bahwa Tan Sri 'is Very Good Salesman'.

"Sudah terjadi perubahan yang besar di Malaysia. Bahkan Perdana Menteri langsung pimpin rapat untuk selesaikan hambatan-hambatan ekonomi. Indonesia sudah melihat perubahan. Ini baru pertama kali wakil Perdana Menteri bicara langsung ke pengusaha," ungkap Chairul Tanjung di kantornya, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Jumat (3/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tercatat 13 pengusaha lokal hadir dalam pertemuan tersebut. Banyak diantaranya merupakan orang-orang kaya versi Majalah Forbes. Ada bos Djarum R Budi Hartono yang dinobatkan orang terkaya pertama di Indonesia, bersama saudara kandungnya.

Selain itu juga ada Ciputra beserta anaknya Chandra Ciputra (Ciputra Grup), Edwin Soeryadjaya (Presiden Komisaris Saratoga), Eddy Sariaatmadja (Chariman PMPG Grup/SCTV), Eddy William Katuari (Presdir Wings Grup), James Riady (Lippo), Sandiaga Uno (Adaro Energy), Subagio Wirjoatmodjo, Putri Kuswisnu Wardani (CEO Mustika Ratu), Aksa Mahmud (Bosowa Grup), dan Chis Kanter serta John Prasetyo.

Tan Sri dalam awal pertemuan 'menjual' Malaysia dengan 130 program trasformasi ekonomi miliknya, dalam 12 bidang utama dan 60 kesempatan bisnis. Beberapa yang dicontohkan Tan Sri adalah investasi di Migas, Pendidikan serta perkebunan kelapa sawit.

"Mereka akan tahu lebih mudah. Pengusaha Indonesia yang tertarik bidang itu, akan bicara lebih terperinci. Kita beri kelulusan (izin) yang paling singkat," ungkap Tan Sri.

Menurutnya, kerja sama ekonomi Indonesia-Malaysia sudah terjalin sejak lama dan kini waktunya untuk ditingkatkan dengan pemerintahan yang baru. Dengan program 98% dari total investasi disumbang oleh pihak swasta, pemerintah Malaysia yakin dapat mencapai pendapatan per kapita US$ 15 ribu di tahun 2020.

"Ada anggapan Malaysia tertutup (investasi). Itu persepsinya. Sebenarnya kerja sama investasi sangat ditunggu-tunggu. Tidak cuma ke Malaysia, tapi serikat (pengusaha) ke Indonesia. Lahan di Kalimantan masih terbuka untuk kepala sawit, pertambangan batubara, bijih besi, infrastruktur seperti bandara dan pelabuhan," ungkap Chairul.

Bahkan Malaysia siap memberikan insentif khusus untuk tiap pengusaha, seperti keringanan pajak, cukai. "Tawaran dari Malaysia lebih kempetitif. Kita mau kasih tahu perusahaan itu, berupa costumize insentif. Kalau perlu menambah lebih, kita berikan," tegas Tan Sri.

Chairul pun sebagai ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), juga siap melaporkan pertemuan dengan Tan Sri kepada Presiden SBY. "Saya lapor ke SBY. Hal-hal yang baik, diambil. Kita akan adaptasi," imbuh Chairul. (wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads