Para Pengusaha dan Profesional Curhat ke Mendag

Laporan dari Dubai

Para Pengusaha dan Profesional Curhat ke Mendag

- detikFinance
Minggu, 05 Des 2010 18:53 WIB
Para Pengusaha dan Profesional Curhat ke Mendag
Dubai - Reputasi Indonesia di bidang TI di Dubai belum baik. Dikeluhkan pengenaan pajak bahan makanan mentah impor dari Indonesia, harga menjadi mahal dan kurang bersaing.

Demikian antara lain curhat para profesional dan pengusaha Indonesia di Dubai dengan Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pengestu di sela-sela menghadiri World Economic Forum (WEF) 2010.

"Di sela-sela padatnya acara WEF, Menteri menyempatkan diri untuk bertemu dengan perwakilan para profesional dan pengusaha kita yang beroperasi di Dubai," tutur Sekretaris I Yana Rudiyana kepada detikfinance (3/12/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan terbatas dalam sarapan pagi di Al Khaymat Al Bahar Restaurant, Al Qasr Hotel (30/11/2010), itu dihadiri Dubes RI Abu Dhabi Muhammad Wahid Supriyadi dan Konsul Jenderal RI Mansyur Pangeran.

"Pengusaha dan profesional Indonesia di luarnegeri berperan penting dalam meningkatkan citra positif Indonesia. Kepercayaan internasional terhadap perekonomian Indonesia saat ini sedang meningkat," ujar Mendag.

Mendag meminta masukan dari para pengusaha dan profesional di Dubai mengenai apa kendala yang dihadapi sebagai bahan masukan untuk kementeriannya.

Dubes Supriyadi menyampaikan bahwa Indonesian Business Council (IdBC) belum dapat disahkan oleh Dubai Chamber of Commerce & Industry (DCCI), karena jumlah pengusaha Indonesia yang terdaftar baru 10 pengusaha, masih kurang 10 pengusaha. Mendag diharapkan mendorong pengusaha Indonesia beroperasi di Dubai dan menjadi anggota IdBC.

Konjen Mansyur Pangeran mengemukakan bahwa terdapat peningkatan minat pengusaha Dubai untuk berbisnis dan berinvestasi di Indonesia, antara lain terlihat dengan bertambahnya pengusaha Dubai yang melakukan kegiatan bisnis, kunjungan dan penjajagan investasi di Indonesia.

Dari kalangan profesional TI disampaikan masukan bahwa reputasi Indonesia di bidang TI di Dubai belum baik. Untuk memperbaiki reputasi diperlukan sertifikasi dari pihak terkait di Indonesia. Sertifikasi tersebut diperlukan untuk membuka perusahaan TI Indonesia di Dubai.

Pelayanan perbankan di Dubai masih di bawah pelayanan perbankan di Indonesia, ujar profesional perbankan yang sebelumnya bekerja di sebuah bank di Indonesia. Oleh karena itu, menurut dia, terdapat peluang cukup besar bagi para profesional perbankan Indonesia untuk masuk ke sektor perbankan di Dubai.Β 

Profesional di bidang konsultan menyampaikan ada kurang kepercayaan pengusaha Indonesia dalam berbisnis di Dubai, karena tidak ada lembaga, yang menjamin pembayaran ekspor ke Dubai.

Sementara itu, pengusaha sektor konstruksi menginformasikan bahwa sektor konstruksi dan properti di Dubai belum membaik, sebaliknya di Abu Dhabi terjadi peningkatan signifikan kegiatan sektor konstruksi dan properti.Β 

Profesional di sektor perhotelan mengungkapkan bahwa Dubai sedang menggalakkan sektor pariwisata dan hospitality, antara lain dengan membangun berbagai hotel yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Selama ini TKI di bidang perhotelan dan hospitality cukup populer di Dubai, namun permintaan tersebut kurang dapat dipenuhi karena kurangnya kemampuan berbahasa Inggris TKI. Selain itu informasi mengenai besarnya gaji dan fasilitas yang diberikan perusahaan di Dubai juga tidak lengkap.

Juga disampaikan bahwa bahan makanan khas Indonesia seperti tempe, sambal uleg, bawang goreng dan kerupukΒ cukup diminati oleh tamu hotel, namun sulit diperoleh di Dubai. Sehingga bahan makanan tersebut diimpor dari negara-negara lain.

Pengusaha di sektor bahan makanan mengutarakan bahwa permintaan bahan makanan di Dubai semakin bertambah. Pengusaha ini mengeluh mengenai pengenaan pajak bagi bahan mentah makanan dari Indonesia, sehingga kurang bersaing dengan bahan serupa dari negara lain.

Pengusaha di sektor tekstil dan garmen mengatakan bahwa produk tekstil dan garmen Indonesia tidak hanya laku dijual di Uni Emirat Arab (UEA), tapi juga di re-ekspor ke Irak, Iran dan Rusia dalam jumlah lebih besar daripada yang dijual di UEA.

Profesional di bidang perminyakan mengemukakan ada peningkatan jumlah profesional Indonesia yang bekerja di sektor perminyakan di Timur Tengah. Itu terlihat dari bertambah banyaknya jumlah anggota Ikatan Ahli Tenaga Minyak Indonesia (IATMI) Timur Tengah.

Pertemuan terbatas yang difasilitasi KJRI Dubai tersebut memberikan dua informasi penting yang dapat ditindaklanjuti.

Pertama, cukup besar peluang bisnis di Dubai bagi pengusaha Indonesia, terutama untuk bahan makanan, tekstil dan garmen. Kedua, terbuka peluang tenaga kerja profesional Indonesia untuk sektor perbankan, perhotelan dan hospitality (spa), serta perminyakan. (es/es)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads