Menguat, RI-UE Menuju Kemitraan Strategis

Laporan dari Brussel

Menguat, RI-UE Menuju Kemitraan Strategis

- detikFinance
Selasa, 07 Des 2010 18:09 WIB
Menguat, RI-UE Menuju Kemitraan Strategis
Brussel - Perkembangan ekonomi RI yang semakin menguat, kesamaan nilai-nilai demokrasi dan penghormatan HAM, dapat menjadi dasar pengembangan kemitraan RI-UE ke arah lebih erat dan strategis lagi.

Hal itu disampaikan Dubes RI Brussel Arif Havas Oegroseno dalam acara rapat dengar pendapat RI-EU di gedung Parlemen Eropa, Brussels (1/12/2010).

"Di 2030 Indonesia akan menjadi pemain bintang di kawasan, ekonomi terbesar ke-28 di 2000, mungkin ekonomi terbesar ke-10 di 2020, dan terbesar ke-5 di 2030," papar Oegroseno, mengutip hasil penelitian Standard Chartered, "The Super-Cycle Report" (15/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lanjut Oegroseno, perekonomian Indonesia akan mencapai USD9,3 triliun, yang menempatkan Indonesia di atas negara-negara seperti Jepang, Jerman, Perancis, dan bahkan Inggris.

Oegroseno juga mengutip Carnegie Endowment for International Peace yang menyebutkan bahwa keseimbangan kekuatan ekonomi dunia berganti demikian cepat dan substansial dari negara-negara G7 ke negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin.

"Indonesia di 2050 akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia bersama-sama Brazil, Russia, India, China, dan Mexico," terang Oegroseno.

Menurut Oegroseno, Indonesia telah membuktikan bahwa ramalan sejumlah kalangan tidak terbukti sama sekali.

Ramalan Gubernur Jenderal Van Mook bahwa Indonesia baru siap merdeka di 2042 dan juga ramalan para pakar Barat bahwa Indonesia akan mengalami Balkanisasi setelah mengalami krisis 1998 sama sekali tidak terbukti.

"Malah sebaliknya, Indonesia semakin kuat," tandas Oegroseno.

Perkembangan terkini Indonesia dari berbagai aspek itu disampaikan Oegroseno sebagai masukan bagi rencana kunjungan Ketua Delegasi Parlemen Eropa untuk negara-negara Asia Tenggara dan ASEAN, Dr. Werner Langen, yang bersama delegasi akan berkunjung ke Indonesia pada Februari 2011 akan datang.

Kunjungan tersebut, sebagaimana dituturkan Sekretaris III Diplomasi Publik/Pensosbud Royhan N. Wahab kepada detikfinance, adalah hasil tindaklanjut pertemuan empat mata Oegroseno dan Langen pada Oktober 2010 lalu, dua pekan setelah Oegroseno menjejakkan kaki di Brussels.

Dalam tanggapan-tanggapannya anggota Parlemen Eropa memberikan apresiasi tinggi terhadap perkembangan politik dan ekonomi Indonesia pasca 1998. Indonesia dinilai sebagai negara dengan peran regional dan global yang perlu menjadi mitra UE secara lebih erat lagi.

Oegroseno juga menyinggung perlunya RI-EU bekerjasama dalam menghadapi ekstrimisme.

Dalam kaitan ini UE dapat belajar dari budaya toleransi Indonesia, salah satu akar budaya bangsa yang mampu membuat Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar ketiga dunia dan pada saat sama adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Mengenai kelapa sawit, Oegroseno menyampaikan bahwa UE perlu melihat masalah kampanye anti-kelapa sawit secara obyektif, mengingat 42 persen kebun kelapa sawit dimiliki oleh petani kecil, di mana peningkatan kesejahteraan dan pendapatnnya sangat tergantung pada produksi kelapa sawit.

Terkait dengan Partnership Cooperation Agreement/PCA (Perjanjian Kerjasama Kemitraan, red) RI-UE yang ditandatangani pada November 2009 lalu, Oegroseno menyatakan bahwa dokumen tersebut merupakan sebuah dokumen hidup, yang perlu untuk terus dikembangkan dari waktu ke waktu.

Dalam sesi diskusi, selain masalah perekonomian RI-UE, hal-hal yang banyak menjadi perhatian Parlemen Eropa adalah masalah desentralisasi, otonomi daerah dan peranan wanita dalam kehidupan politik di Indonesia.

(es/es)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads