PT Nestle Indonesia menegaskan rencana pembangunan pabrik baru di Karawang, Jawa Barat, senilai US$ 100 juta salah satunya untuk mensubsitusi impor produk yang selama ini dilakukan oleh perseroan khususnya produk minuman Milo Malt dan Cerelac.
Pabrik baru ini juga akan menyerap tambahan 300 tenaga kerja dan akan memanfaatkan bahan baku lokal untuk memproduksi Milo dan Cerelac di Indonesia, seperti gula, susu, bubuk coklat, kacang hijau dan lain-lain.
"Milo dan Cerelac selama ini impor, dengan pabrik baru akan menggantikan posisi ini," kata Technical Director PT Nestle Indonesia Aris Protonotarios di Jakarta, Kamis (9/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Presiden Direktur Nestle Indonesia Arshad Chaudhry mengatakan produk Nestle khususnya Milo setiap tahunnya terus meningkat 20% dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi Nestle Indonesia.
"Yang terpenting dari keputusan investasi ini kita akan menyerap bahan baku lokal dan untuk konsumen dalam negeri. Indonesia sangat diuntungkan," ucap Chaudhry.
Ia juga mengatakan, dari dua line pabrik baru Nestle, ke depannya akan ditingkatkan menjadi 6 line, sesuai kebutuhan permintaan di dalam negeri. Dari investasi ini Nestle berharap akan tetap memimpin pangsa pasar produk makanan dan minuman nutrisi di Indonesia.
Nestle Indonesia masuk sepuluh besar dalam hal penjualan di kawasan Asia, Oceania, Afrika dan Timur Tengah. Tercatat konstribusi penjualan Nestle Indonesia mencapai US$ 900 juta di tahun 2009 lalu. Selain itu, pabrik Nestle di Kejayan Pasuruan Jawa Timur masuk dalam jajaran 10 pabrik terbesar Nestle di seluruh penjuru dunia.
Selama ini produk Nestle di Indonesia seperti Milo minuman berenergi dan Cerelac sebagian diimpor dari Malaysia, produk permen Polo dari Filipina dan lain-lain.
Sementara produk yang sudah dibuat di dalam negeri seperti produks susu Nona, Carnation, Nescafe, Dancow, Ideal, Nestea dan lain-lain.
(hen/ang)











































