"Dapat dilihat 25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan tertinggi menerima alokasi subsudi sebesar 77%. Lalu 25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan terendah, hanya menerima subsidi sekitar 15%," papar Darwin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (13/12/2010).
Menurut Darwin, data-data ini didapatnya dari hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2008, dan laporan Bank Dunia tahun 2010, serta hasil laporan ekonomi Menteri ESDM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini senada terkait dengan pernyataan yang disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa, yang menyampaikan pembatasan BBM bersubsidi ini ditujukan untuk mengutamakan keadlian agar distribusi BBM aubsidi lebih tepat sasaran.
"UU APBN kan mengatakan harus ada pengaturan dan pembatasan secara bertahap, maka itu, inilah yang kita lakukan," ujar Hatta.
Hatta menekankan, bahwa permasalahan anggaran bukanlah satu-satunya pertimbangan usulan pembatasan BBM subsidi tersebut. Namun, pertimbangan utamanya adalah penempatan subsidi secara adil.
"Masyarakat itu (yang kurang mampu) yang harus dibantu, ketimbang masyarakat yang punya kendaraan pribadi," tukas Hatta.
(dnl/dnl)










































