PT Pertamina (Persero) optimistis pada saat diberlakukannya kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di akhir triwulan I-2011 seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jabodetabek sudah menjual Pertamax. Saat ini masih ada sekitar 21 SPBU yang belum memiliki dispenser Pertamax.
"Waktu selama kurang lebih 3 bulan ke depan ini akan kita manfatkan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan kebijakan pemerintah itu," kata VP Communication Pertamina M Harun saat dihubungi detikFinance, Selasa (14/12/2010).
Ia mengatakan, dari total 740 SPBU Pertamina yang tersebar di seluruh Jabodetabek, 21 diantaranya belum memiliki dispenser untuk BBM non subsidi alias Pertamax. Perusahaan migas pelat merah itu akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melengkapi infrastruktur di SPBU tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi suplai Pertamax, menurut Harun, tidak menjadi masalah. Selama ini, konsumsi BBM baik subsidi dan non subsidi di Jabodetabek yang cukup besar itu dipasok dari Kilang Balongan dan Dipa Pelumpang.
"Suplai sudah pasti aman karena pasokan selama ini lancar. Konsumsi Pertamax di Jabodetabek saat ini sekitar 1.800-2.000 KL per hari. Jadi sudah siap secara keseluruhan," jelasnya.
Sebelumnya, setelah rapat 12 jam lebih, Komisi VII DPR bersama 3 menteri ekonomi akhirnya memutuskan untuk melakukan pembatasan konsumsi BBM subsidi mulai kuartal I-2011. Jadi di akhir Maret 2011 mobil plat hitam tak lagi bisa menikmati BBM bersubsidi.
"Komisi VII DPR memutuskan implementasi kebijakan pengendalian BBM subsidi dilakukan pada akhir kuartal I-2011. Namun setelah pemerintah melakukan kajian yang harus disetujui Komisi VII terlebih dahulu," tutur Ketua Komisi VII Teuku Riefky Harsa dalam rapat dengan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, dan Menteri ESDM Darwin Z. Saleh di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa dini hari (14/12/2010). (ang/dnl)











































