Derasnya arus barang impor dari berbagai negara ke Indonesia membuat produk Indonesia tertekan. Industri rotan ikut jadi korban, ada 208 perusahaan rotan yang saat ini kondisinya kritis atau hampir kolaps karena kalah saingan dengan produk impor.
Menurut data dari Asosiasi Mebel dan Rotan Indonesia, ekspor furnitur Indonesia sejak 2005 terus menurun, dari US$ 347 juta menjadi hanya US$ 138 juta di Agustus 2010. Kondisi industri rotan jadi Cirebon yang merupakan barometer industri rotan nasional pun kembang kempis kondisinya.
Ada 43% atau 220 perusahaan rotan jadi yang gulung tikar, 40% atau 208 perusahaan ada di stadium 4 atau hampir kolaps, dan 17% atau 73 perusahaan masih berjuang terus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hatta mencontohkan untuk satu set tempat tidur impor hanya US$ 299-US$ 500, sementara produk dalam negeri harganya di atas itu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan barang impor ini lebih murah, pertama penguatan rupiah yang membuat barang impor jadi murah.
Lalu masalah ongkos pekerja atau sumber daya manusia (SDM), kualitas produk, desain, kreativitas yang masih kalah dibandingkan barang impor.
"Image produk rotan Indonesia di pasar global sedang menurun drastis sehingga perlu promosi terus-menerus yang memerlukan uang dan waktu. Produk dalam negeri kita juga tidak dihargai di negeri sendiri," tukas Hatta.
(dnl/ang)











































