Hatta mengaku sering 'dikerjai' oleh oknum bea cukai saat mengimpor bahan baku untuk keperluan industri mebelnya. Salah satu modusnya, adalah mempersulit pengeluaran barang dengan memperselisihkan jenis nomor HS (harmonize system) dari barang yang diimpor.
Ia menuturkan, dirinya pernah mengalami kesulitan mengeluarkan barang dari pelabuhan Tanjung Priok, ketika bahan kain yang ia impor diklaim oleh oknum Bea Cukai nomornya HS-nya berbeda atau biasa disebut pelarian nomor HS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang ini sakti yang bisa membedakan nomor HS dari penciuman saja," katanya disela-sela acara diskusi masyarakat Bangga Produk Indonesia di Jakarta, Kamis (16/12/2010).
Si oknum petugas tersebut menawarkan uji lab untuk memastikan kebenaran nomor HS dengan biaya Rp 750.000. Sayangnya hasil lab itu baru bisa keluar setelah satu bulan, sementara ia harus membutuhkan bahan kain itu untuk produksi mebel yang harus diekspor kembali.
"Saya mengalah, dan mengajak kompromi barang saya akhirnya keluar," katanya.
Hatta menjelaskan kejadian ini bukan sekali saja, sehingga ia menggarisbawahi jika kondisi ini terus terjadi akan terus mengurangi daya saing industri mebel khususnya rotan. Pasalnya, negara-negara pesaing seperti Vietnam dan China relatif aman dari masalah hambatan-hambatan di pelabuhan khususnya soal kepabeanan.
Menurutnya masalah layanan dan infrastruktur di pelabuhan hanya bagian kecil dari hal yang menggrogoti daya saing produk mebel lokal. Produk mebel rotan negara pesaing mampu menjual produk lebih miring, sementara produk lokal sebaliknya karena banyak faktor seperti penguatan rupiah, termasuk kendala masalah bahan baku dan lain-lain.
"Ada rasa frustasi diantara kalangan kita pelaku industri rotan," katanya.
(hen/qom)










































