Soy mengatakan, saat ini Kadin sangat kental dengan aroma politik ketimbang menaungi kepentingan semua pengusaha.
"Terus masuklah Ibas, apa urusannya Ibas. Kan setiap pengurus Kadin harus pengusaha. Saya tak tahu juga Ibas pengusaha apa," tukas Soy di Jakarta Media Center, Kebon Sirih, Jakarta, Sabtu (18/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibas terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Promosi Internasional, Pariwisata, Seni dan Budaya di kepengurusan Kadin 2010-2015.
Ibas, kelahiran Bandung, 24 November 1980 merupakan putra bungsu Presiden SBY. Ibas memiliki 2 gelar sarjana di Curtin University of Technology, Perth, Western Australia: Bachelor of Commerce Finance dan Electronic Commerce, pada 26 Februari 2005. Ibas kemudian meraih gelar M.Sc International Political Economy di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU).
Soy mengakui saat ini Kadin bukan lagi menjadi organisasi yang menaungi dunia usaha. Kadin sudah menjadi konvensi partai politik.
Keadaan makin diperparah ketika masuknya orang-orang yang 'berkepentingan' ke dalam Kadin. Akibatnya, Kadin dimanfaatkan orang-orang partai politik untuk melancarkan kepentingannya.
"Karena berganti sistemnya, jadi mulailah money politics terjadi, masuklah Parpol. Jadi Kadin ini bukan lagi untuk dunia usaha tapi jadi konvensi Parpol," tukas Soy.
(nia/dnl)











































