Demikian dikatakan oleh Ketua Bidang UKM, Perempuan Pengusaha, Gender, dan Urusan Sosial Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Mina Pursinah dalam jumpa pers di kantor Apindo, Kuningan, Jakarta, Senin (20/12/2010).
"Sekarang ini banyak UKM yang tadinya produksi sekarang jadi penjual dari produk China atau India. Ini ditemui di sektor garmen, handycraft, makanan dan minuman, sama furnitur. Ini tersebar di Jabodetabek, Sumatera, dan Kalimantan," kata Mina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, jika dia memproduksi barang, ada risiko barang yang diproduksi oleh para UKM ini tidak laku di pasaran karena kalah dengan produk-produk impor yang harganya lebih bersaing.
"Akhirnya daripada rugi mending jadi penjual saja karena lebih menguntungkan. Belum lagi banyak ongkos produksi yang dikeluarkan, kalau penjual tidak perlu bayar tenaga kerja banyak dan ongkos produksi," imbuh Mina.
Ke depan, Mina meminta pemerintah menciptakan industri baru yang lebih bisa bersaing dengan produk-produk China dan India, sehingga impor bisa ditekan dan produktivitas dalam negeri naik, yang pengaruhnya positif bagi sektor UKM.
"Yang harus diperbaiki, dari segi kualitas, daya saing, dan kontinuitas pembuatannya. Hasil pameran UKM di Shanghai banyak UKM yang diminati oleh negara-negara Skandinavia. Pemerintah harus memberikan fasilitas kepada UKM untuk ikut pameran di dalam dan luar negeri," papar Mina.
Data terakhir di 2009, jumlah pengusaha UKM di Indonesia mencapai 52 juta dengan penyerapan mencapai 96 juta tenaga kerja. Di tahun ini diperkirakan jumlah tersbeut bakal bertambah 10%. Mina mengatakan 30% UKM di Indonesia dimiliki dan dikelola oleh kaum perempuan.
(dnl/qom)











































