Demikian diungkapkan oleh Direktur Keuangan dan AdministrasiΒ Farid Luthfi dalam konferensi persnya di Gedung SAR, Kemayoran, Jakarta, Senin (27/12/2010).
"Kinerja keuangan kita diperkirakan merugi atau tercatat sebagai rugi operasi sekitar Rp 30-40 miliar tahun ini. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu itu karena memang ada untung Rp 16,6 miliar karena penjualan gedung," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi pendapatan selama tahun 2010 tercatat sebesar Rp 1,7 triliun. Atau lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2009 yang sebesar Rp 1,8 triliun," terangnya.
Ditempat yang sama, Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengungkapkan pihaknya berhasil melakukan restrukturisasi utang kepada ketiga Lessor penyedia jasa sewa pesawat yakni Air Castle, Jetlease dan Jetscape.
"Dengan Jetscape, Lessor bersedia menurunkan harga sewa per bulan untuk pesawat 737 seri 300 dari US$ 120,000 menjadi US$ 98,000 dan untuk pesawat 737 seri 400 dari US$ 132,000 menjadi US$ 115,000," paparnya.
Selain itu, Jetlease jangka waktu sewa pesawat berhasil diperpanjang selama 2 tahun. Lessor tersebut, sambung Jhony akan menyediakan 3 mesin untuk mendukung keterandalan operasional pesawatnya.
"Jetlease juga bersedia menurunkan harga sewa pesawat per bulan dari US$ 145,000 menjadi US$ 80,000 untuk setiap pesawat yakni 737 seri 300," kata dia.
Jhony menegaskan tidak ada utang yang dinyatakan "default" ataupun perusahaan Lessor yang menggugat pailit Merpati hingga saat ini. Oleh karena itu, Ia berharap kedepan kinerja keuangan Merpati bisa terus membaik seiring dengan adanya Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 610 miliar dari pemerintah.
(dru/qom)











































