Menteri BUMN Mustafa Abubakar menyatakan, saat ini Kementerian Keuangan dengan Kementerian BUMN tengah membahas konsep bond stabilization fund (BSF).
BSF merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya peralihan dana asing sewaktu-waktu dari Indonesia (suddenreversal), melalui
pembelian kembali Surat Utang Negara (SUN).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Pjs Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Agus Suprijanto menyatakan bahwa pemerintah tengah melakukan diskusi dengan lima perusahaan pelat merah yang cukup ternama yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), PT Taspen, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terkait pembentukan BSF tersebut.
Terkait dengan kelima BUMN yang disebutkan oleh BKF, Mustafa menegaskan bahwa masih kelimanya masih belum pasti dalam komitmen pembentukan BSF. “Belum, itu baru isu. Nanti kami lihat BUMN-BUMN yang relevan dan punya kemampuan,” ujarnya.
Mustafa melanjutkan, besar dana yang akan disumbang oleh perusahaan-perusahaan BUMN tergantung dari hasil pembahasan. “Sekarang sedang dalam tahap kami identifikasi dulu. BUMN yang relevan dan punya kemampuan fiskal. kita kesepakatan dulu,” ujarnya.
Bila nantinya, pembahasan tuntas pada Desember ini, maka tidak menutup kemungkinan akan ditarik dalam RKP Kementrian BUMN.
“Kami harapkan sebelum tutup tahun sudah rampung, termasuk aspek institusi lembaga yang terlibat. Kalau kami sepakat, pembahasan RKP kan Desember-Januari, kalau ini masuk dalam konsep kerjasama,” pungkasnya.
(nia/hen)










































