Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo mengatakan permintaanΒ produk telur dan daging ayam broiler di Indonesia naik-turun sangat fluktuatif. Menurutnya bisnis unggas ibarat "Lingkaran Siput" yang makin membesar maka permintaannya naik dan untung, lalu masing-masing memperbesar usaha.
Sementara pada saat permintaan turun, peternak merugi dan saling tuding, saling menyalahi. Setelah permintaan naik lagi lalu untung lagi, siklus berulang lagi setiap tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
kurangi isi kandang jauh dibawah kapasitasnya," kata Don P. Utoyo kepada detikFinance Jumat (31/12/2010)
Dikatakannya, harga unggas di Jabodetabek pada Desember 2010, untuk ayam broiler (hidup) melemah dibawah Rp.11.000-12.000 per kg, broiler yang sudah dipotong seharga Rp 24.000-27.000 per kg, yang kadang-kadang naik-turun sekitar Rp 500-1000 per kg.
"Secara umum persediaan daging ayam broiler dan telur sangat cukup," katanya.
Salah satu peternak ayam di Jawa Tengah yang bernama Indro mengatakan Harga ayam di petani sekarang hanya Rp 10.000 per kg padahal biaya produksi sudah mencapai Rp 11.000 per kg sementara harga jual di pasar malah Rp 20.000 per kg. Peternak itu mengaku dilokasi peternakan di wilayahnya yang memiliki kapasitas 200.000Β ekor dalam keadaan kosong alias tak produksi, para peternak masih menunggu harga normal.
"Kata para petani ayam yang lain, peternak korporasi kayak Charoen, Sierad, Malindo sengaja naikin harga DOC (day old chick/ayam umur sehari) agar peternak plasma mandek dan penjualan peternak korporasi meningkat. Tujuannya untuk window dressing laporan keuangan jelang tutup tahun," ujar Indro.
(hen/qom)











































