Inflasi Semakin 'Pedas', BPS Minta Masyarakat Kurangi Makan Cabai

Inflasi Semakin 'Pedas', BPS Minta Masyarakat Kurangi Makan Cabai

- detikFinance
Minggu, 02 Jan 2011 11:53 WIB
Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan belakangan kembali dipusingkan karena harga cabai yang lagi-lagi memicu inflasi. Ketua BPS Se-ASEAN ini menghimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi cabai segar yang harganya kian melonjak beberapa waktu ini.

Rusman menilai naiknya harga cabai disebabkan karena kurangnya suplai cabai dipasaran. Penyebabnya, lanjut Rusman, bisa disebabkan cuaca yang tidak bersahabat
maupun distribusi yang terhambat. Namun, kenaikan harga tersebut tidak akan berpengaruh terhadap inflasi jika konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut tidak begitu tinggi.

"Pola konsumsi cabe untuk orang-orang di kampung, warteg, rumah makan Padang, itu pengennya ngulek saja. Gak berasa kalau bukan sambal ulekan," ujarnya kepada
detikFinance, Minggu (02/01/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pola konsumsi inilah, lanjut Rusman, yang memicu inflasi akibat kenaikan harga cabai kian signifikan. Untuk menjaga inflasi agar tidak naik drastis seiring kenaikan harga komoditas 'pedas' ini, Rusman mengimbau masyarakat agar bisa mengubah pola konsumsinya.

"Padahal kalau pengen pedas kan ada cabai pabrik, cabai bubuk, dan sebagainya. Cobalah ubah gaya pola konsumsi sambel, jangan pengennya yang fresh saja karena pola seperti ini menjadi bulan-bulanan harga," tandasnya.

Sebagai informasi, pada awal tahun 2011, harga bahan-bahan kebutuhan pokok terus merangkak. Harga cabai rawit merah paling 'pedas' bahkan mencapai Rp 90.000 per kg.

"Sekarang itu semua mahal, tidak ada yang tak mahal, apalagi cabai. Gara-gara musim hujan jadi stok tidak banyak di pasar induk," ujar seorang pedagang di Pasar Minggu, Nurhayati kepada detikFinance, Sabtu (1/1/2011).

Nurhayati mengatakan, harga cabai merah keriting saat ini mencapai Rp 60.000 per kg, cabai hijau keriting Rp 30 ribu per kg, cabai rawit hijau Rp 50 ribu per kg, cabai
rawit merah Rp 90 ribu per kg, cabai hijau besar Rp 40 ribu per kg, dan cabai merah besar Rp 16 ribu per kg. Diakui Nurhayati, dengan kenaikan ini daya beli pelanggannya menurun. Dari yang biasanya bisa membeli 5 kg, sekarang hanya membeli 1 hingga 2 kg saja.

"Jumlah pembeli tidak berkurang, namun porsi belanjanya dikurangi," keluh Nurhayati.

Namun seorang pelanggan Nurhayati bernama Ida mengatakan, karena kenaikan harga ini maka jatah belanjanya dikurangi karena tidak mampu mengurangi konsumsinya terhadap cabai.

"Saya tetap tak bisa lepas dari cabai, paling jatah belanja dikurangi," keluh Ida.
(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads