Inflasi Tembus Angka 7% di 2010

Inflasi Tembus Angka 7% di 2010

- detikFinance
Minggu, 02 Jan 2011 17:49 WIB
Jakarta - Inflasi tahun 2010 diperkirakan akan menembus angka 7,01% meskipun pemerintah memperkirakan inflasi hanya mencapai 6,7%. Pasalnya, pada bulan sebelumnya yakni November 2010 tercatat angka inflasi year on year sudah mencapai 6,33% ditambah lagi dengan adanya kenaikan pangan di akhir tahun 2010.

Ekonom PT Bank Danamon Tbk Helmi Arman dalam risetnya memprediksikan inflasi pada bulan Desember ini akan mencapai 0,98%. Menurut Helmi, faktor utama pendorong masih disebabkan kenaikan harga pangan, seperti beras, cabai, minyak goreng ditambah dengan kenaikan biaya transportasi musiman (Natal dan Tahun Baru). Kenaikan harga pangan sendiri disebabkan kondisi iklim yang tidak bersahabat baik domestik maupun global.

Sekarang pertanyaannya, apakah kenaikan harga pangan perlu dikhawatirkan? Helmi menyatakan harga pangan merupakan komoditas dengan harga yangΒ  tidak stabil
(volatile) sehingga seharusnya tidak perlu mendapatkan perhatian lebih, baik kenaikan maupun penurunannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Indonesia (BI) sendiri telah menegaskan dalam laporan keuangannya, selagi inflasi inti (core inflation) masih berada di bawah 4,3% maka inflasi dari volatile food tersebut tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, Helmi menilai lain, iklim basah yang menyebabkan harga pangan meningkat diperkirakan BMKG akan terjadi terus-menerus. Bahkan La Nina diperkirakan
berlangsung hingga Mei-2011 sehingga dapat menyebabkan inflasi inti beranjak naik.

"Dengan demikian bukan hal yang bijaksana untuk mengabaikan informasi tersebut karena akan berdampak pada kenaikan inflasi ini," ujar Helmi dalam risetnya seperti dikutip detikFinance, Minggu (02/01/2011).

Kenaikan harga pangan ini beberapa bulan terakhir ini dampaknya akan menular terhadap harga makanan olahan yang mulai merangkak naik. Keadaan akan semakin parah pada tahun 2011 ini dengan adanya pembatasan BBM bersubsi pada bulan Maret 2011 mendatang.

Kebijakan ini, lanjut Helmi, berpotensi menekan inflasi sebesar plus minus 0,5% bps namun masih tergantung seberapa tinggi harga minyak. Sebetulnya, tren inflasi
yang meningkat ini telah terlihat dengan cepatnya kenaikan upah buruh jika dibandingkan tahun 2009 lalu.

"Upah pekerja mungkin sudah meningkat lebih cepat tahun ini dibandingkan tahun 2009. Ini merupakan tanda, tren inflasi meningkat. Maka dari perspektif ke depan inilah,
ada alasan untuk berhati-hati," tegasnya.

Namun, apakah BI akan menaikkan suku bunganya? Helmi menyatakan arus modal saat ini telah menjadi perhatian utama bagi pembuat kebijakan. Sejauh ini, BI
telah melakukan tindakan manajemen likuiditas terukur untuk mensterilkan intervesi mereka terhadap valuta asing. Namun, di pasar uang Helmi mengatakan suku bunga telah lebih dulu turun.

Hal ini menyebabkaan terjadi perbedaan pandangan di pasar terkait kebijakan yang dilakukan BI apakah kebijakan tersebut dibuat benar-benar ditujukan untuk melawan inflasi atau untuk sekedar mengurangi biaya kebijakan moneter dan menghindari masalah neraca. Untuk pasar obligasi sendiri, Helmi menyatakan sisi fundamental pasar obligasi Indonesia masih kuat dan perbedaan tingkat suku bunga pun masih cukup lebar.

"Kami masih optimis dalam jangka panjang, dana asing masih terus mengalir. Walaupun dalam waktu dekat, ada kemungkinan turbulensi berasal dari faktor domestik,"
ujarnya.

Helmi menilai meskipun banyak yang berpikir BI akan menaikkan suku bunga pada April 2011, tetapi terdapat kesempatan bagi BI untuk bersikap reaktif dengan menahan suku bunga tersebut jika pertumbuhan kredit tahun ini di bawah 24%. (nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads