"Krisis baru itu tidak akan mungkin, Siapa bilang? Kita harus mewaspadai adanya bad news. We have to anticipate dampak ke perekonomian kita yakni inflasi di bidang pangan," ujar SBY dalam sambutannya sebelum berdialog dengan pelaku pasar modal di Gedung BEI, Kompleks SCBD, Jakarta, Senin (3/1/2011).
Selain inflasi di bidang pangan, SBY juga meminta untuk mewaspadai harga minyak dunia yang terus merangkak naik di atas US$ 120/barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan lupa sekarang dunia tengah menyusun kembali financial arsitecture dan seperti biasanya yang ada tidak akan selalu kompak. Masing-masing kebijakan dan cara-cara yang diambil masing-masing negara akan berbeda. Ini perlu koordinasi bersama seperti misalnya gejala non tarif barrier dan strategic currency," paparnya.
Soal mata uang, menurut SBY banyak negara saat ini sengaja menahan penguatan nilai tukar mata uangnya.
"Ini yang harus kita waspadai bersama, yakni kebijakan yang diambil harus hati-hati dan melihat kondisi global juga," katanya.
Terkait defisit APBN 2010, SBY membanggakan Indonesia ketika realisasinya hanya sebesar 0,62% ketika negara-negara defisitnya membengkak.Β
"Defisit akhirnya APBN kita dari proyeksinya 1,8%, saya senang dengar realisasi anggaran semula 2,1% di 2010 ternyata hanya jadi 0,62%. Padahal banyak negara-negara lain yang defisitnya tinggi," jelas SBY.
(dru/dnl)











































