Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah telah mengambil tindakan agar di masa mendatang harga cabai tidak kembali meroket di saat musim hujan.
"Cabe diproduksi dalam 1,5 bulan dan dipanen selama 1,5 bulan berikutnya. Ketika harga tinggi, petani di wilayah tertentu yang tidak terpengaruh hujan akan menanam. Sehingga umumnya dalam satu bulan harga akan kembali turun," tutur Bayu kepada detikFinance, Senin (3/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, pada Sabtu (1/1/2011) lalu di Pasar Minggu, harga cabai rawit merah paling 'pedas' mencapai Rp 90.000 per kg. Harga cabai merah keriting mencapai Rp 60.000 per kg, cabai hijau keriting Rp 30 ribu per kg, cabai rawit hijau Rp 50 ribu per kg, cabai rawit merah Rp 90 ribu per kg, cabai hijau besar Rp 40 ribu per kg, dan cabai merah besar Rp 16 ribu per kg.
Diakui Bayu, pemerintah telah memikirkan berbagai cara agar keadaan seperti ini tidak terulang lagi. Pada 2011 ini, pemerintah akan segera melakukan gerakan tanam cabai di perkotaan (2 bulan sebelum lebaran dan 2 bulan sebelum natal) dengan cara membagi bibit, media tanam, dan pelatihan kepada ibu-ibu PKK tentang bagaimana menanam cabe dan top roof gardening.
Pemerintah juga akan memberikan bantuan sosial berupa shading net dan unit penggilingan cabai olahan ke kawasan cabai sehingga antisipasi hujan dan jatuhnya harga cabai bisa diantisipasi.
Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bantuan berupa mobile cooling unit, container, dan kemari pendingin untuk memperpanjang daya simpan cabai.
Bayu mengimbau kepada masyarakat untuk menggalakkan tanam cabai di perkotaan, misalnya di pekarangan rumah atau dengan menggunakan pot.
(nin/dnl)











































