"Akhir Januari (2011) mulai sudah panen, beberapa daerah seperti Tasikmalaya dan Sukabumi. Mudah-mudahan pasokan cabai akan membaik. Brebes juga akan panen di akhir Januari dan awal Februari," kata Bayu di kantornya, Ragunan, Selasa (4/1/2011).
Menurutnya berdasarkan penelusuran lapangan Kementerian Pertanian, penyebab lonjakan harga cabai diakhir tahun tidak terlepas dari masalah tingginya curah hujan yang berkepanjangan sebagai imbas dari cuaca ekstrim. Hal ini secara langsung memukul tingkat produksi cabai di dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata dia, faktor musibah letusan Gunung Merapi dan Bromo turut punya andil dalam menurunkan produksi cabai di sentra-sentra produksi cabai. Meskipun pemerintah belum mengetahui pasti seberapa besar dampaknya.
"Pertengahan Januari dan akhir Januari di Grobogan akan panen juga," katanya.
Bayu menuturkan, bahwa tahun 2011 ini masalah cuaca ekstrim masih menjadi tantangan bagi pemerintah terkait dampaknya pada produksi pangan termasuk holtikultura seperti cabai. Ia mencontohkan daratan Australia yang selama ini didominasi gurun, memasuki 2011 justru dilanda banjir besar yang berkepanjangan.
"Situasi ini memang berat," katanya.
(hen/ang)











































