Pada Senin, 3 Januari, harga emas secara singkat sempat berada di atas level US$ 1.420 per ounce. Namun pada Selasa (4/1/2011), harga emas kembali bertolak dan jatuh mendekati level tertinggi 14 Desember yakni US$ 1.407,90 per ounce.
Sementara pada perdagangan Selasa (4/1/2010), harga emas kembali merosot hingga 2%. Seperti dikutip dari Reuters, harga emas di pasar spot turun hingga 2,4% menjadi US$ 1.380,10 per ounce, dari titik tertingginya pada Senin di US$ 1.423,57 per ounce.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, jika melihat sejarah emas satu tahun lalu, harga tertinggi baru di US$ 1.226,20 per ounce terjadi pada 3 Desember 2009. Tepat di hari yang sama, emas anjlok dan berbalik melemah hingga ke level US$ 1.044,50 pada 5 Februari 2010 sebelum melanjutkan trend bullishnya hingga saat ini.
Meski dalam jangka menengah dan jangka panjang emas masih bullish, namun outlook jangka pendek belum berubah. Sepertinya terdapat indikasi bahwa level top telah tercapai jangka pendek ini di US$ 1.430,90 (tertinggi 7 Desember). Selama gagal bertahan di atas level US$ 1.430,90, maka dalam jangka pendek emas rentan koreksi dan akan mengalami fase konsolidasi di antara level US$ 1.430,90 dan US$ 1.314,60 per ounce (terendah 22 Oktober).
Mengapa emas masih rentan koreksi?
Wahyu menjelaskan, secara musiman, Januari merupakan bulan di mana dolar cenderung menguat. Mengamati pergerakan EURUSD dan USDCHF di bulan Januari, dapat kita lihat bahwa tujuh dari sepuluh tahun terakhir, kedua mata uang tersebut mengalami pelemahan terhadap dolar di Januari. Dengan kata lain, selama bulan pertama, dolar menguat terhadap euro dan Swiss Franc sebesar 70 persen.
Menurut Wahyu, ada banyak alasan yang bisa menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Hal yang sangat jelas adalah awal tahun biasa digunakan sebagai momentum pemosisian perdagangan oleh para trader.
"Biasanya banyak investor asing melakukan repatriasi atas uangnya di akhir tahun demi terwujudnya window dressing atas neraca keuangannya atau menyiapkan distribusi investasinya," katanya.
Di awal tahun, lanjut Wahyu, mereka mereinisiasi posisinya atau mengambil posisi baruΒ yang biasanya cenderung kepada investasi di pasar saham dan obligasi AS.
Secara fundamental, potensi penguatan dolar lebih lanjut di Januari ini juga masih beralasan jika melihat kondisi yang akan dihadapi zone euro di 2011. Krisis hutang Eropa masih menjadi sumber kecemasan di mana banyak investor masih cemas atas nasib krisis fiskal yang mulai menyebar ke Iberian Peninsula.
Selain itu, data ekonomi AS belakangan ini pun semakin membaik. Data terakhir menunjukkan bahwa sektor manufaktur tumbuh untuk bulan ke 17 pada Desember. Institute for Supply Management mengatakan indeks aktivitas pabrik AS naik menjadi 57,0 bulan lalu dari 56,6 pada bulan November. Selain itu, belanja konstruksi AS naik lebih dari dugaan pada bulan November, meningkat 0,4 persen menjadi tingkat tahunan sebesar $, 810,2 milyar di level tertinggi sejak bulan Juni.
Ekspektasi terhadap data terpenting AS pekan ini pun sepertinya masih berpihak kepada dolar. Data pasar tenaga kerja (non-farm payroll) AS diduga masih akan melanjutkan tren positif dua bulan sebelumnya, naik menjadi 136 ribu orang dari sebelumnya 39 ribu. Sedangkan tingkat pengangguran diduga akan menurun ke level 9.7% dari sebelumnya 9.8%.
Pola Emas Mengindikasikan Rising Wedge Bearish
Secara teknikal, Wahyu melihat potensi pelemahan emas didukung oleh beberapa hal.
Pertama, emas memang sudah berada di level overbought. Stochastic Harian emas berada di atas level 80% dengan garis value sudah menekuk ke bawah dan memotong garis signal. Kejadian bearish jangka pendek berkait stochastic yang overbought ini sudah terjadi tiga kali saat emas berada di level puncak, yaitu pada 14 Oktober saat berada di level 1386.90, pada 9 November saat berada di level 1424.30, dan pada 7 Desember lalu saat berada di level 1430.90.
Kedua, emas menunjukkan pola rising wedge yang bisa berujung kepada pelemahan. Pola rising wedge adalah pola yang dibentuk oleh kecendeungan harga yang masih naik, namun level puncak (kisaran atas) dari harga tidak sekuat pergerakan naik dari level bawah (kisaran bawahnya). Bahkan kisaran atasnya semakin menurun sehingga agak menyempit/mengerucut. Pola ini mengindikasikan pelemahan, terutama jika didukung oleh melemahnya volume meskipun harga masih menguat atau bisa disebut divergensi. Pola rising wedge yang didukung oleh divergensi ini memang jelas terlihat dari indikator Volume dan MACD Harian. Semua ini memberi indikasi bahwa emas berpotensi melemah.
Ketiga, pola candle harian emas pada hari pertama Januari 2011 berbentuk Shooting Star yang mengindikasikan pola bearish.
"Dengan demikian, pergerakan emas sepertinya tidak banyak berbeda dengan bulan Desember lalu. Kemungkinan emas masih akan melemah ke level 1386.50 yang merupakan 61.8% fibonacinaci dari terendah 22 Oktober (1314.60) ke tertinggi 7 Desember (1430.90) atau dekat dengan tertinggi 14 Oktober di 1386.90," urai Wahyu.
Support selanjutnya adalah level 1371.10 (terendah 8 Desember) atau berdekatan dengan level 1372.75 yang merupakan level 50% fibonacinaci dari terendah 22 Oktober (1314.60) ke tertinggi 7 Desember (1430.90).
Jika level 1371.10 tersebut tertembus maka sepertinya akan terbuka jalan bagi emas untuk menguji level 1360.90 (terendah 16 Desember) atau dekat dengan support garis tren naik dari terendah 22 Oktober (1314.60) ke terendah 16 November (1329.40). Di bawahnya terdapat level 1350.70 (terendah 26 November) atau berhimpit dengan level 1349.00 (tertinggi 21 Oktober).
"Bahkan pelemahan bisa berlanjut ke level 1342.05 yang merupakan level 23.6% untuk fibonaci yang sama," papar Wahyu.
(qom/qom)











































