"Konsumsi daging sapi naik dari 2 kg/kapita pada tahun 2010 menjadi 2,02/kg/kapita pada tahun 2011, sehingga kebutuhan konsumsi meningkat menjadi 487 ribu ton," ungkap Dewan Pertimbangan Organisasi Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Sukur Iwantoro dalam diskusi di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (5/1/2011).
Seperti yang diketahui selama ini sapi banyak diimpor dari Australia, Selandia Baru (New Zealand), Kanada, dan Amerika. Menanggapi hal tersebut, Sukur mengungkapkan perlu ditumbuhkannya BUMN untuk perbibitan sapi (potong dan perah).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga harus bisa meyakinkan perbankan berbisnis di peternakan sama prospektifnya dengan bisnis di kelapa sawit," imbuh Sukur.
Beberapa faktor penghambat investasi di sektor peternakan adalah adanya birokrasi yang tidak ramah investor (prosedur berbelit, tidak transparan) dan informasi tentang potensi, peluang, prospek, serta prosedur investasi yang ditampilkan oleh pemerintah kurang memberikan kepastian (informasi yang ditampilkan cenderung meaningless bagi calon investor).
Sukur juga mengungkapkan serapan tenaga kerja juga lebih banyak untuk sektor pertanian, termasuk peternakan.
"Untuk PMDN (penanaman modal dalam negeri), setiap investasi Rp 1 miliar akan dapat menyerap 8 pekerja (sektor pertanian) dan 2,4 pekerja untuk sektor industry. Sedangkan untuk PMA (penanaman modal asing), setiap investasi sebesar US$ 1 juta, maka dapat menyerap sebanyak 70 orang, sedangkan untuk sektor industri dengan besaran yang sama hanya menyerap 20 orang," pungkasnya.
(nin/dnl)










































