Konsumsi Daging Meningkat, Pemerintah Bakal Impor Lagi

Konsumsi Daging Meningkat, Pemerintah Bakal Impor Lagi

- detikFinance
Rabu, 05 Jan 2011 17:38 WIB
Jakarta - Permintaan daging sapi di 2011 diperkirakan bakal naik 6,5%. Pemerintah bakal melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Para peternak sapi meminta pemerintah meningkatkan produksi dalam negeri.

"Konsumsi daging sapi naik dari 2 kg/kapita pada tahun 2010 menjadi 2,02/kg/kapita pada tahun 2011, sehingga kebutuhan konsumsi meningkat menjadi 487 ribu ton," ungkap Dewan Pertimbangan Organisasi Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Sukur Iwantoro dalam diskusi di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (5/1/2011).

Seperti yang diketahui selama ini sapi banyak diimpor dari Australia, Selandia Baru (New Zealand), Kanada, dan Amerika. Menanggapi hal tersebut, Sukur mengungkapkan perlu ditumbuhkannya BUMN untuk perbibitan sapi (potong dan perah).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah tidak harus membangun perbibitan sapi baru karena sudah ada PT. BULI. Selain itu juga diperlukan adanya peningkatan daya saing melalui pemberian insentif bagi usaha peternakan dengan kredit peternakan yang sudah ada.

"Kita juga harus bisa meyakinkan perbankan berbisnis di peternakan sama prospektifnya dengan bisnis di kelapa sawit," imbuh Sukur.

Beberapa faktor penghambat investasi di sektor peternakan adalah adanya birokrasi yang tidak ramah investor (prosedur berbelit, tidak transparan) dan informasi tentang potensi, peluang, prospek, serta prosedur investasi yang ditampilkan oleh pemerintah kurang memberikan kepastian (informasi yang ditampilkan cenderung meaningless bagi calon investor).

Sukur juga mengungkapkan serapan tenaga kerja juga lebih banyak untuk sektor pertanian, termasuk peternakan.

"Untuk PMDN (penanaman modal dalam negeri), setiap investasi Rp 1 miliar akan dapat menyerap 8 pekerja (sektor pertanian) dan 2,4 pekerja untuk sektor industry. Sedangkan untuk PMA (penanaman modal asing), setiap investasi sebesar US$ 1 juta, maka dapat menyerap sebanyak 70 orang, sedangkan untuk sektor industri dengan besaran yang sama hanya menyerap 20 orang," pungkasnya.

(nin/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads