Periode Penurunan Harga Emas Masih Berlanjut

Periode Penurunan Harga Emas Masih Berlanjut

Wahyu Daniel - detikFinance
Jumat, 07 Jan 2011 17:50 WIB
Jakarta -

Pada perdagangan pertama di awal tahun (3 Januari 2011), harga emas anjlok dari US$ 1.423,9 per ounce menjadi US$ 1.363,8 per ounce pada 5 Januari 2011. Ada beberapa faktor fundamentral pendorong pelemahan ini.

Faktor tersebut antara lain faktor musiman di mana dolar biasa menguat di Januari, data ekonomi AS yang semakin membaik, serta ekspektasi terhadap data terpenting pekan ini yaitu data pasar tenaga kerja AS.

"Bicara tentang data pasar tenaga kerja AS yang sangat penting tersebut, maka kita bisa berhenti sejenak untuk kembali mengamati pergerakan emas di hari terakhir dari pekan pertama di bulan pertama tahun ini. Sepertinya emas bergerak hati-hati jelang rilis data tersebut. Di Kamis lalu, emas melemah namun bergerak konsolidatif di dalam kisaran sebelumnya," jelas Wahyu Tribowo Laksono, analis dan periset pasar uang dan saham PT Askap Futures dalam review-nya, Jumat (7/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah tren bearish tersebut akan terus berlanjut ataukah akan beristirahat sejenak dan rebound?

Wahyu mengatakan, secara teknikal, sebagaimana dinyatakan sebelumnya, pelemahan emas belakangan ini didukung oleh beberapa hal, seperti Stochastic Harian yang overbought, pola Rising Wedge bearish, serta pola candle harian Shooting Star.

Menurutnya ketiga hal tersebut membawa kesimpulan pergerakan emas sepertinya tidak banyak berbeda dengan bulan Desember lalu. Kemungkinan emas masih akan melemah ke level US$ 1.386,5 per ounce yang merupakan 61,8% fibonaci dari terendah 22 Oktober (US$ 1.314,6 per ounce) ke tertinggi 7 Desember (US$ 1.430,9 per ounce) atau dekat dengan tertinggi 14 Oktober di US$ 1.386,9 per ounce.

"Support selanjutnya adalah level US$ 1.371,1 per ounce (terendah 8 Desember 2010) atau berdekatan dengan level US$ 1.372,75 per ounce yang merupakan level 50% fibonaci dari terendah 22 Oktober 2010 (US$ 1.314,6 per ounce) ke tertinggi 7 Desember 2010 (US$ 1.430,9 per ounce)," jelas Wahyu.

Jika level US$ 1.371,1 tersebut tertembus, maka sepertinya akan terbuka jalan bagi emas untuk menguji level US$ 1.360,9 per ounce (terendah 16 Desember 2010) atau dekat dengan support garis tren naik dari terendah 22 Oktober 2010 (US$ 1.314,6 per ounce) ke terendah 16 November 2010 (US$ 1.329,4 per ounce).

Di bawahnya terdapat level US$ 1.350,7 per ounce (terendah 26 November 2010) atau berhimpit dengan level US$ 1.349 per ounce (tertinggi 21 Oktober 2010).

"Level US$ 1.386,5 per ounce dan US$ 1.371,1 per ounce memang berhasil ditembus emas. Hanya saja, di duaΒ  hari terakhir, tanggal 5 dan 6 Januari, pelemahan masih terbatasi oleh support garis tren naik dari terendah 22 Oktober 2010 (US$ 1.314,6 per ounce) ke terendah 16 November 2010 (US$ 1.329,4 per ounce), saat ini berada di sekitar US$ 1.364,8 per ounce," tutur Wahyu.

Jika mengamati garis tren emas tersebut, potensi rebound bisa saja terjadi. Hal ini pernah terjadi belum lama ini, yaitu pada tanggal 16-18 Desember 2010 lalu.

Dari grafik harian terlihat emas bertahan di atas garis support (di atas US$ 1.330 per ounce) dan kemudian rebound didukung oleh indikator stochastic yang over sold.

"Bisa saja hal ini terjadi kembali jika emas gagal bertahan menembus level US$ 1.363,8 per ounce. Jika demikian, maka emas bisa rebound ke level US$ 1.386,5 per ounce. Namun, penguatan ini bisa jadi akan mendapat tantangan di resistance US$ 1.423,9 per ounce (tertinggi 3 Januari 2010)," jelas Wahyu.

Wahyu mengatakan sepertinya kenaikan emas akan sulit ditembus dengan asumsi bahwa emas masih berkonsolidasi. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, meski dalam jangka menengah dan jangka panjang emas masih bullish, namun outlook jangka pendek belum berubah.

"Sepertinya terdapat indikasi bahwa level top telah tercapai jangka pendek ini di US$ 1.430,9 per ounce (tertinggi 7 Desember). Selama gagal bertahan di atas level US$ 1.430,9 per ounce, maka dalam jangka pendek emas rentan koreksi dan akan mengalami fase konsolidasi di antara level US$ 1.430,9 per ounce dan US$ 1.314,6 per ounce (terendah 22 Oktober). Memang, jika melihat sejarah emas satu tahun lalu, emas mencetak level tertinggi baru di US$ 1.226,2 per punce pada 3 Desember 2009," tutur Wahyu.

Namun dikatakan Wahyu tepat di hari yang sama, emas anjlok dan berbalik melemah hingga ke level US$ 1.044,5 per ounce pada 5 Februari 2010 sebelum melanjutkan tren bullish hingga saat ini.

"Namun, jika emas berhasil mempertahankan tembusannya di bawah level US$ 1.363,8 per ounce, maka emas bisa melanjutkan pelemahannya ke level US$ 1.360,9 per ounce (terendah 16 Desember 2010) dan level US$ 1.342,05 per ounce yang merupakan level 23.6%, fibonaci dari terendah 22 Oktober (US$ 1.314,6 per ounce) ke tertinggi 7 Desember (US$ 1.430,9 per ounce).

Jika level US$ 1.342,05 per ounce tersebut tertembus, maka terbuka jalan bagi emas untuk menguji level US$ 1.329,4 per ounce (terendah 16 November 2010) atau bahkan level (terendah 22 Oktober).

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads