Salah satunya adalah yang dilakukan oleh para pedagang nasi goreng yang memilih 'menyunat' jatah cabai di nasi goreng jualannya. Mereka mengurangi porsi penggunaan cabai merah untuk nasi goreng hingga setengahnya.
"Biasanya saya beli cabai sekilo untuk masak dua hari. Tapi karena harga cabai masih mahal terpaksa saya kurangin belinya sampai setengah," ujar Acong (28), seorang pedagang nasi goreng yang biasa berjualan di daerah Blok Dukuh, Cibubur, Jakarta Timur ketika ditemui detikFinance, Jakarta (11/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untungnya sih saya ada langganan di pasar Cibubur, jadi biasanya kalau mau beli sekilo pasti dikasih harga sedikit lebih murah," ujarnya.
Acong juga mengaku kerepotan, karena jika cabai habis, para penjual cabai di warung-warung hanya membolehkan pembelian cabai minimal Rp 10.000 dengan takaran 1 ons.
"Kalau pas dagang, cabai kita habis, kita beli di warung nggak boleh ngeteng. Minimal harus beli se-ons, Rp 10.000," ungkap Acong.
Acong mengaku tidak menyangka bahwa harga cabai pada waktu belakangan ini bisa melonjak. "Dulu waktu lebaran atau hari-hari biasa harganya (cabai) bisa sampai Rp 40.000 - Rp 60.000 sekilo, saya sendiri sudah kelimpungan. Sekarang harga malah naik sampai Rp 100.000 makin repot saya, makanya saya belinya ngurangin sampai setengah," keluh Acong.
"Kalau ada yang beli dan minta pedas, saya pasti suka gak enak karena sambalnya saya kurangi. Walau mereka (pembeli) mengerti, tapi tetap saja saya ngerasa tidak enak," tambahnya.
Acong berharap agar harga cabai segera kembali normal dalam waktu dekat. "Saya gak ngerti ini cabai kenapa bisa mahal. Entah itu ulah tengkulak atau karena alasan cuaca atau apa, saya harap keadaan ini bisa cepat normal lagi," harapnya.
Seperti diketahui, sejak menjelang akhir tahun 2010 hingga kini harga cabai masih dirasa 'pedas' dengan kisaran harga Rp 90.000 - Rp 100.000. Bahkan, di beberapa daerah, harga cabai ada yang tembus hingga Rp 120.000 - Rp 140.000 per kilogramnya.
(nrs/qom)











































