Dalam proyeksi terbarunya, Bank Dunia memperkirakan perekonomian global akan tumbuh 3,3 persen pada tahun 2011, setelah tumbuhn 3,9 persen di 2010. Bank Dunia memperkirakan perekonomian negara-negara berkembang akan tumbuh 6%, turun dari angka 7% yang dicapai pada 2010.
Namun angka pertumbuhan yang dicapai negara-negara berkembang itu lebih baik ketimbang proyeksi pertumbuhan dari negara-negara maju yang diprediksi hanya 2,4% di 2011, melemah dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 3,9%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketegangan yang serius dan lubang yang ada dalam perekonomian global, dalam jangka pendek dapat menggelincirkan proses pemulihan ekonomi ke tingkat yang berbeda," demikian laporan Bank Dunia itu.
Ancaman terhadap proses pemulihan ekonomi global itu termasuk krisis pasar finansial Eropa, gejolak aliran modal dan kenaikan harga-harga komoditas termasuk pangan dan bahan bakar.
Bank Dunia mengekspresikan kekhawatiran khususnya terhadap kenaikan harga komoditas, termasuk pangan dan bahan-bakar yang dipicu oleh kendornya kebijakan moneter di negara-negara maju dan kuatnya permintaan di negara-negara berkembang.
"Meskipun harga makanan nyata di beberapa negara berkembang belum naik sebesar yang diperhitungkan dalam dolar AS, namun mereka naik tajam di beberapa negara miskin. Dan jika harga internasional terus naik, dampak kemiskinan dan isu-isu yang tidak dapat dihindari bisa semakin luas," imbuh Bank Dunia.
"Kami sangat prihatin tentang kenaikan harga-harga pangan... Kami melihat beberapa kesamaan dengan situasi di 2008, hanya sesaat sebelum krisis," jelas Hans Timmer, Direktur Bank Dunia untuk prospek pembangunan.
Pada tahun 2008, harga minyak mentah dunia sempat melonjak hingga US$ 147 per barel pada Juli namun selanjutnya meluncur turun kebawah menjadi hanya US$ 30 per barel hanya dalam kurun waktu 6 bulan.
Bank Dunia menegaskan, skenario lonjakan harga pangan dan minyak mentah di tengah melambatnya perekonomian sehingga sering disebut sebagai staglasi, bisa saja dihindari sepanjang suplai bisa memenuhi permintaan.
"Situasi ini juga sedikit berbeda dengan tahun 2008 karena pertama dari semuanya di pasar bijih-bijihan, cadangan lebih besar dari situasi ketat dan juga di pasar ini lebih terlokalisasi, lebih beragam dari industri komoditas," imbuh Timmer.
Pada tahun 2008, lonjakan harga komoditas yang sangat kuat secara jelas terpengaruh oleh bangkrutnya raksasa investasi Lehman Brothers pada September.
Saat ditanya mengenai seberapa beda kondisi saat ini, Timmer mengatakan dirinya berharap suplai bisa memenuhi permintaan.
"Anda masih memiliki cadangan yang besar disana, yang tidak tersedia ketika krisis tahun 2008, namun jelas kita berada dalam trend peningkatan. Dan konsekuensinya untuk orang-orang dan negara-negara bisa serius," katanya.
(qom/qom)











































