Nasib Petani Indonesia Sudah Sampai Taraf Sengsara

Nasib Petani Indonesia Sudah Sampai Taraf Sengsara

- detikFinance
Rabu, 19 Jan 2011 14:53 WIB
Jakarta - Pemerintah dinilai tak pernah memperhatikan nasib petani di Indonesia yang tahun lalu ditimpa kegagalan panen akibat cuaca ekstrem dan gangguan hama. Nasib petani saat ini sudah sampai taraf sengsara.

Demikian disampaikan oleh Pemilik CV Alamakmur Ayong Winata yang merupakan agen penjual beras kepada detikFinance, Rabu (19/1/2011).

"Petani kita dibiarkan begitu saja oleh pemerintah untuk mengatasi masalah di lapangan. Padahal kita tahu sendiri bahwa petani kita itu pengetahuannya kurang dan dananya juga terbatas. Petani kia bukan hanya miskin, tapi sudah sampai taraf sengsara," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ayong meminta agar pemerintah turun ke lapangan untuk membantu petani. Apa yang dibutuhkan oleh petani, misal pupuk atau obat-obatan, harus disiapkan oleh pemerintah. Selain itu juga harus ada program bunga murah dan tanpa pinjaman yang dapat membantu keuangan petani.

Selain itu, Ayong juga mengatakan soal kebijakan pembebasan bea masuk beras yang dilakukan pemerintah untuk mempermudah impor beras guna mengamankan pasokan dalam negeri. Menurut Ayong tidak apa-apa bea masuk dibebaskan, asalkan tβ€Židak selamanya.

"Pembebasan bea masuk untuk beras hanya berlaku sampai Maret atau hanya sampai petani kita mulai panen. Mulai 1 April bea masuk mulai dikenakan lagi ke beras, yaitu Rp 450/kg, jadi pembebasan bea masuk ini tidak berlaku selamanya," jelas Ayong.

Ayong juga menambahkan bahwa pola seperti ini dinilai cukup bagus mengingat harga beras di dunia juga mahal.

Ia menilai bahwa dengan pembebasan bea masuk ini maka pemerintah telah berusaha untuk menjaga harga beras di dalam negeri supaya tidak melonjak terlalu tinggi. Namun, jika pembebasan bea masuk diberlakukan selamanya, maka akan merugikan petani kita.

Disinggung mengenai konsumsi masyarakat sejak harga beras melambung, Ayong mengatakan jumlah konsumsi masyarakat tidak berkurang.

Namun, pelanggan yang sebelumnya membeli beras kualitas tinggi atau sedang, kini mereka terpaksa membeli beras yang kualitasnya sedang atau rendah.Β 

(nin/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads