MS Hidayat: SBY Bakal Jadi Superstar Pada Pertemuan Ekonomi di India

MS Hidayat: SBY Bakal Jadi Superstar Pada Pertemuan Ekonomi di India

- detikFinance
Kamis, 20 Jan 2011 12:48 WIB
MS Hidayat: SBY Bakal Jadi Superstar Pada Pertemuan Ekonomi di India
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bakal jadi superstar dalam pertemuan ekonomi di India pada tanggal 25-26 Januari 2011 mendatang. Karena, pada pertemuan tersebut untuk pertama kalinya SBY akan berpidato selaku pemimpin negara berkembang yang sukses.

"Presiden ya pasti datang dong, dia (SBY) itu kan jadi superstar di situ, karena dianggap negara emerging economy, dia jadi superstar-nya. Dia pertama kali diundang, dianggap sudah waktunya dia tampil di forum dunia itu. Jadi dia mungkin akan memimpin panel diskusi, ya buat publikasi dunia oke dong," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (20/1/2011).

Hidayat menyebutkan Presiden akan didampingi 5 menteri lain yaitu Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, serta dirinya sendiri selaku Menteri Perindustrian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain memberikan sambutan, Presiden SBY juga akan menyaksikan penandatangan kerjasama antara Kementerian Perindustrian Indonesia dengan Kementerian Perindustrian India untuk industri pupuk.

"Yang G to G (antar pemerintah), nanti di depan Presiden, di antara lain juga ada Menperin dan Menteri Chemical Fertilizer India karena dia ingin membuat FS (feasibilities study) dan membuat industri fertilizer dari gasifikasi batubara. Setelah menandatangi itu, kedua kementerian akan bekerja membuat feasibilitas," jelasnya.

Hidayat juga menyebutkan pihaknya akan bekerjasama dengan pihak swasta India, Primex, dalam bidang nilai tambah pasir besi. Maksudnya, Indonesia mengekspor pasir besi ke India, kemudian setelah didapat nilai tambahnya di India yaitu ketika sudah diperoleh titanium dan uranium, maka pasir besi tersebut dikembalikan lagi ke Indonesia.

"Nilai tambahnya, titanium, uranium, tapi pasirnya sendiri dipulangin lagi ke Indonesia, jadi nggak ekspor pasir mentah seperti yang sekarang ini kita lakukan di RRC. Saya juga minta itu dihentikan tuh, jangan ekspor bahan mentah. Anda tahu kan, perindustrian lagi tak suka bahan mentah," tegasnya.

Kedua MoU tersebut, ujar Hidayat, senilai US$ 2 miliar. "Masing-masing US$ 1 miliar," jelasnya.

Selain itu, Hidayat menyatakan terdapat sekitar 15 perjanjian bisnis senilai sekitar US$ 15 miliar untuk berbagai bidang seperti infrastruktur ataupun pembangkit listrik.

(nia/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads