"Presiden ya pasti datang dong, dia (SBY) itu kan jadi superstar di situ, karena dianggap negara emerging economy, dia jadi superstar-nya. Dia pertama kali diundang, dianggap sudah waktunya dia tampil di forum dunia itu. Jadi dia mungkin akan memimpin panel diskusi, ya buat publikasi dunia oke dong," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (20/1/2011).
Hidayat menyebutkan Presiden akan didampingi 5 menteri lain yaitu Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, serta dirinya sendiri selaku Menteri Perindustrian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang G to G (antar pemerintah), nanti di depan Presiden, di antara lain juga ada Menperin dan Menteri Chemical Fertilizer India karena dia ingin membuat FS (feasibilities study) dan membuat industri fertilizer dari gasifikasi batubara. Setelah menandatangi itu, kedua kementerian akan bekerja membuat feasibilitas," jelasnya.
Hidayat juga menyebutkan pihaknya akan bekerjasama dengan pihak swasta India, Primex, dalam bidang nilai tambah pasir besi. Maksudnya, Indonesia mengekspor pasir besi ke India, kemudian setelah didapat nilai tambahnya di India yaitu ketika sudah diperoleh titanium dan uranium, maka pasir besi tersebut dikembalikan lagi ke Indonesia.
"Nilai tambahnya, titanium, uranium, tapi pasirnya sendiri dipulangin lagi ke Indonesia, jadi nggak ekspor pasir mentah seperti yang sekarang ini kita lakukan di RRC. Saya juga minta itu dihentikan tuh, jangan ekspor bahan mentah. Anda tahu kan, perindustrian lagi tak suka bahan mentah," tegasnya.
Kedua MoU tersebut, ujar Hidayat, senilai US$ 2 miliar. "Masing-masing US$ 1 miliar," jelasnya.
Selain itu, Hidayat menyatakan terdapat sekitar 15 perjanjian bisnis senilai sekitar US$ 15 miliar untuk berbagai bidang seperti infrastruktur ataupun pembangkit listrik.
(nia/dnl)










































