Demikian disampaikan oleh VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun dalam siaran pers yang diterima detikFinance di Jakarta, Kamis (20/1/2011).
"Selain belanja modal, RUPS yang dilaksanakan pada hari ini juga menetapkan target perolehan keuntungan sebesar Rp 17,7 triliun atau meningkat 14,2% dibandingkan dengan prognosa 2010 sebesar Rp 15,5 triliun. RKAP 2011 disusun melalui strategi agrressive in upstream and profitable in downstream," ujar Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target produksi minyak dan gas di 2011 dipatok sebesar 470,31 juta barel oil equivalen per hari atau naik 26,81 ribu barel oil equivalen per hari dibandingkan prognosa 2010 sebesar 443,5 ribu bariel per hari," jelasnya.
Untuk produksi panas bumi Pertamina di 2011 juga ditargetkan meningkat 800 ribu ton menjadi 16,5 juta ton atau setara 2188 Giga Watt hour dibandingkan dengan produksi 2010 sebesar 15,7 juta ton atau setara dengan 2089 Giga Watt hour. Harun juga menyampaikan untuk pengembangan investasi dibidang hulu meliputi pengeboran eksplorasi 76 sumur dan pengeboran 221 sumur.
"Dan untuk panasbumi, Pertamina akan mengembangkan lapangan Hululais, Sungaipenuh, Lumut Balai, Ulubelu, Karaha, Kamojang, Lahendong, 5-6 dan Kotamobagu dengan total kapasitas terpasang 1092 Megawatt," terangnya.
Produksi BBM 2011
Terkait dengan produksi BBM di 2011 Pertamina menetapkan target sebesar 247,3 juta barrel atau meningkat 11,8 juta barrel dibandingkan produksi BBM di 2010 sebesar 235,5 juta barrel. Harun mengatakan, untuk target produksi Non BBM meningkat menjadi 23,9 juta barrel di 2011 atau naik 1,7 juta barel dibandingkan dengan 2010 yang hanya sebesar 22,2 juta barel.
"Volume penjualan produk non PSO juga diharapkan meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produk BBM retail non PSO ditargetkan meningkat 330 ribu KL atau menjadi sebesar 1,56 juta KL di 2011 dibandingkan prognosa penjualan 2010 sebesar 1,23 juta KL," tambahnya.
Lebih jauh Harun mengatakan, penjualan pelumas Pertamina juga akan lebih ekspansif di 2011 diman target penjualan tahun ini sebesar 546 ribu KL atau naik 88 ribu KL dibandingkan prognosa 2010 sebesar 458 ribu KL. Untuk bisnis aviasi, penjualan avtur juga ditargetkan meningkat 3,3 juta KL atau naik 110 ribu KL dibandingkan 2010 sebesar 3,19 juta KL.
"Parameter yang digunakan untuk menetapkan target 2011 yakni harga minyak di level US$ 80/barel dan kurs Rp 9000/US$," tutupnya.,
(dru/ang)










































