Harga Emas Masih Sulit Naik Lagi

Harga Emas Masih Sulit Naik Lagi

- detikFinance
Rabu, 26 Jan 2011 08:10 WIB
Harga Emas Masih Sulit Naik Lagi
Jakarta - Tren harga emas di awal tahun ini memang sulit menguat dan cenderung melemah. Pada pekan lalu harga emas masih tertekan menembus level 1342.05 dengan mencapai level terendah harian di level 1337.70 dan ditutup melemah di level 1343.40.

Pelemahan emas selama ini dipertegas lagi oleh pemosisian para investor yang mulai beralih ke sektor komoditi lainnya. Trader option komoditi telah menaikan taruhan bearish ke level rekor setelah reli minyak dan logam. Animo untuk menjual iShares S&P GSCI Commodity-Indexed Trust naik dua kali lipat awal Januari lalu ke rekor 18.797 kontrak yang beredar, menaikan rasio puts per call ke tiga tahun tertinggi 3.28- terhadap -1.

Wahyu Tribowo Laksono, analis dan periset pasar uang dan saham PT. ASKAP mengungkapkan, dari data posisi trader dari Commodity Futures Trading Commission atau CFTC, dapat terlihat bahwa spekulator berposisi bearish pada kelompok logam di minggu yang berakhir 18 Januari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada kelompok logam berharga, emas berjangka terus dibuang. Pembelian net emas berjangka merosot -12,379 ke 164,993 kontrak pada pekan tersebut. Penurunan tiga minggu berturut-turut membawa pembelian net ke level terendah sejak Juli 2009. Selama periode tersebut, harga emas merosot terkait investor mengambil profit dari posisi beli mereka," jelas Wahyu dalam ulasannya, Rabu (26/1/2011).

Untuk bulan Desember, industri komoditi minyak dan tembaga mengalahkan emas, yang tahun lalu bersama logam mulia lainnya menjadi komoditi terbaik secara keseluruhan. Tren bulan Desember berlanjut dan 'tema utama' 2011 menurut Wahyu adalah bull market untuk siklus komoditi, didukung oleh pemulihan ekonomi.

"Secara jangka panjang, tren bullish emas harus bersaing dengan performa terbaik 'grup CCCP' yaitu crude, copper, corn and bean, platinum (atau minyak mentah, tembaga, jagung dan kacang dan platinum)," ungkap Wahyu.

Ia menambahkan, investasi emas melalui ETF jatuh ke level Agustus 2010 setelah anjlok sebesar 48 ton sejak tertinggi 20 Desember lalu.

Emas termasuk di antara komoditi yang anjlok belakangan ini, yaitu sebesar 3%. Sedangkan perak, yang menjadi primadona di 2010, menjadi komoditi yang paling buruk penampilannya pekan lalu, jatuh lebih dari 6,4%.

"Padahal belakangan ini dolar AS terus tertekan terutama oleh euro. Namun, pelemahan dolar gagal membuat emas mampu menguat di mana sektor komoditi umumnya cenderung bergerak datar, sebagaimana terlihat pada grafik indeks komoditi Reuters Jeffries CRB yang berkisar di level 331-335," jelasnya.

Wahyu menambahkan, ancaman kebijakan pengetatan moneter oleh China masih menjadi alasan utama mengapa emas melemah belakangan ini. Namun menurutnya, pelemahan harga emas secara teknikal sebenarnya sudah dapat diperkirakan sebelumnya.

"Meski dalam jangka menengah dan jangka panjang emas masih bullish, namun outlook jangka pendek belum berubah: Sepertinya terdapat indikasi bahwa level top telah tercapai jangka pendek ini di 1430.90 (tertinggi 7 Desember). Selama gagal bertahan di atas level 1430.90, maka dalam jangka pendek emas rentan koreksi dan akan mengalami fase konsolidasi di antara level 1430.90 dan 1314.60 (terendah 22 Oktober). Memang, jika melihat sejarah emas satu tahun lalu, emas mencetak level tertinggi baru di 1226.20 pada 3 Desember 2009. Tepat di hari yang sama, emas anjlok dan berbalik melemah hingga ke level 1044.50 pada 5 Februari 2010 sebelum melanjutkan trend bullishnya hingga saat ini," paparnya.

Namun, jika emas berhasil mempertahankan tembusannya di bawah level US$ 1363,80 per ounce maka emas bisa melanjutkan pelemahannyaΒ  ke level US$ 1360,90 (terendah 16 Desember) dan level US$ 1342,05 yang merupakan level 23,6%, fibonaci dari terendah 22 Oktober (1314.60) ke tertinggi 7 Desember (US$ 1430,90). Jika US$ 1342,05 tersebut tertembus, maka terbuka jalan bagi emas untuk menguji level US$ 1329,40 (terendah 16 November 2010) atau bahkan level US$ 1314,60Β (terendah 22 Oktober).

"Sepertinya emas masih akan mengejar level US$ 1314,60, jika level US$ 1329,40 tertembus. Meski demikian, harus diwaspadai jika emas mendekati level US$ 1314,60, karena tekanan rebound bisa saja akan signifikan," tambah Wahyu.

Namun, konfirmasi tembusnya level US$ 1314,60 tersebut akan membuka jalan ke pengujian level psikologis US$ 1300 atau bahkan ke level US$ 1281,80 (terendah 28 September 2010).

Potensi rebound masih mungkin terjadi di sekitar level US$ 1329,40 atau US$ 1314,60 untuk menguji kembali ke level US$ 1353,30 (tertinggi 24 Januari). Bagaimanapun, selama level US$ 1379,20 (tertingi 19 Januari) dan level 1393.10 (tertinggi 13 Januari 2011) tidak tertembus, sepertinya emas masih cenderung turun. Dan meskipun emas mampu menembus level 1393.10, sepertinya level 1423.90 akan menjadi level yang sangat sulit untuk ditembus nantinya.

"Bagaimanapun, secara jangka panjang emas masih mungkin menguat. Alasan yang memungkinkan bullish emas tersebut bukanlah hal baru yaitu: Program Pelonggaran Moneter (Quantitative Easing) AS dan kebijakan stimulus global masih akan membuat investor cemas bahwa kebijakan tersebut akan memperlemah mata uang Investor cemas bahwa krisis utang Eropa masih berpotensi merembet spread Kecemasan inflasi berkait lonjakan harga komoditi dan pangan dunia," papar Wahyu.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads