Harga Pakan Naik, Peternak Unggas Kelimpungan
Kamis, 06 Mei 2004 15:38 WIB
Bandung - Para peternak unggas seakan tak habis dirundung badai. Usai serangan wabah "flu burung" yang membuat ribuan ternak unggas mati dan harga jual menurun, kini para peternak unggas juga mengeluhkan kenaikan harga pakan. Praktis, biaya produksi ternak unggas naik sedangkan harga jualnya relatif menurun.Kondisi ini disampaikan Pj Ketua Umum Perhimpunan Pengusaha Unggas Indonesia (PPUI) Alie Abubakar kepada wartawan di Bandung, Kamis (6/4/2004).Menurut Alie, akibat wabah flu burung sampai saat ini masih kondisi belum sepenuhnya pulih."Masih banyak konsumen yang tidak mau mengkonsumsi protein asal unggas," tuturnya.Sementara itu, kenaikan harga jual pakan ternak unggas terjadi karena perusahaan besar PMA pabrikan dan pabrikan PMDN, secara mendadak menaikkan beberapa kali harga jual pakan itu. Kenaikan yang diberlakukan terjadi sejak bulan Oktober 2003 sampai Januari 2004 sebesar Rp 275/kg. "Pada bulan Februari - Maret 2004 ini kembali naik lagi sebesar Rp 250/kg. Selanjutnya bulan April 2004 ini naik lagi Rp 200/kg. Pada bulan Mei 2004 mendatang, rencananya akan naik lagi," keluh pengusaha ternak di Cirebon ini.Hitung punya hitung, total beberapa kali kenaikan harga pakan itu sudah mencapai Rp 725/kg dan harga pakan buatan pabrik saat ini Rp 2.975/kg. Menurut Alie, alasan kenaikan yang dilakukan oleh para pabrikan pakan adalah karena naiknya harga impor bungkil kacang kedelai dan meat bone mills (MBM) yang terjadi sejak bulan Oktober- Desember 2003.Yang jelas menurut Alie, kenaikan ini akan menaikkan secara drastis harga pokok usaha budidaya unggas. Untuk menghasilkan ayam hidup seberat 1 kg, dibutuhkan pakan unggas sebanyak 1,8 sampai 1,9 kg. Sementara harga anak ayam umur satu hari (day old chick alias DOC) sebagai dampak harga pakan yang mahal, seharga Rp 2.000/ekor."Ditambah dengan biaya lainnya, harga pokok usaha budidaya untuk menghasilkan seekor ayam berat 1,35 kg dengan umur 33 hari sebesar Rp. 8.260/lg ayam hidup di kandang peternak. Sementara harga jual ayam panen saat ini maximal sebesar Rp 7.800/lg hidup," tuturnya lagi.Karena itu, selain mempertanyakan soal kenaikan harga pakan ini, PPUI juga menilai menjadi ironi Indonesia sebagai satu negara agraria ternyata dalam hal bungkil jagung masih mengandalkan impor."Padahal jagung dapat tumbuh di lahan di seluruh Indonesia. Kenapa kita masih mengimpor jagung dari AS, India dan Cina serta para petani kita seolah-olah enggan untuk menanam jagung setelah panen padi. Kondisi seperti ini memang dibentuk agar kita tidak pernah swasembada jagung," kata Alie.PPUI juga meminta agar pabrik pakan kecil PMDN tidak mendapatkan bahan baku jagung dan tidak harus membeli kepada perusahaan PMA tadi. "Untuk mengungkap rekayasa-rekayasa yang ada, pihak berwajib dapat memeriksa pergudangan jagung yang ada di bawah penguasaan para pabrik pakan PMA tersebut," saran Alie lagi.
(nrl/)











































