"Profit Rp 1 triliun, itungan ini yang pesimistik," jelas Direktur Keuangan, Elisa Lumbantoruan usai dialog dengan para analis di Hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (31/1/2011).
Ia menyebutkan, rute penerbangan perseroan memang masih ada yang merugi, seperti Jakarta-Amsterdam. Namun ini tidak menyulutkan semangat perseroan untuk meraih laba Rp 1 triliun sepanjang tahun 2011, meski bayang-bayang kenaikkan bahan bakar bisa saja menggerus laba perseroan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan memang terus mengupayakan agar rute Jakarta-Amsterdam tidak merugi dengan cara mengkaji ulang pola pemasaran yang sudah dijalani satu tahun belakangan.
"Akan ada perbaikan, dari kegiatan marketing, go to market model. Review model yang tepat. Misalkan Jakarta-Kuala Lumpur jika masuk low cost carrier, kita akan masukkan Citilink," ucap Elisa.
Garuda sendiri akan melepas saham baru melalui penawaran saham perdana sebanyak 6,3 miliar lembar atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Porsi ini didiskon dari target semula 30%.
Pemerintah menetapkan harga IPO Garuda, Rp 750 per lembar. Dengan demikian, total dana yang didapat mencapai Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar.
Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun. Bertindak sebagai penjamin emisi adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities. Saham yang dilepas ini sudah termasuk saham PT Bank Mandiri Tbk di Garuda 10%.
(wep/ang)










































