Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Ststistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya Jalan Dr.Sutomo, Jakarta, Selasa (1/2/2011).
"Tren ekspor terus meningkat sehingga membentuk rekor terbaru. Pada November 2010 sudah tinggi yaitu US$ 15,6 miliar, tapi Desember 2010 rupanya ada rekor baru lagi yaitu US$ 16,8 miliar. Itu rekor terbaru capaian ekspor sepanjang sejarah ekspor Indonesia," ujar Rusman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk ekspor migas selama Januari-Desember 2010 mencapai US$ 129,68 miliar. Rusman menyebutkan penyumbang ekspor terbesar adalah bahan bakar mineral terutama batubara yang nilainya US$ 18,73 miliar serta lemak dan minyak nabati atau CPO mencapai US$ 16,29 miliar.
"Kontribusi ekspor terbesar masih dipegang pasar-pasar konvensional kecuali RRT. Untuk Jepang US$16,5 miliar, China US$14,07 miliar, dan AS US$13,3 miliar. Pangsa pasar untuk 3 negara tersebut 33,85% dari total ekspor. Sedangkan ekspor ke Uni Eropa US$ 17,07 miliar," tuturnya.
Sedangkan untuk impor, sepanjang 2010 nilainya mencapai US$ 135,61 miliar meningkat 40,05% dibanding 2009 yang sebesar US$ 96,83 miliar.
"Kalau kita bandingkan dengan kenaikan ekspor, memang kenaikan impor masih lebih rendah sedikit. Desember 2009 ke Desember 2010 naik 27,08%. Sementara dibanding November naik 0,63%. Total ekspor US$ 135,61 miliar, dan impor non migas US$ 108,24 miliar," ujarnya.
Untuk negara penyumbang impor terbesar di 2010 secara berurutan adalah China 18,19%, Jepang 15,62%, Singapura 9,29% dan Uni Eropa 9,02%.
"Komposisi impor kita terkait dengan bahan pangan atau konsumsi 7,37%. Itu kecil. Yang terbesar bahan baku 72,78% dan barang modal 19,85% pada komposisi Januari-Desember 2010," ujarnya.
Berdasarkan pencapaian tersebut, maka sepanjang 2010 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 22,13 miliar.
(nia/dnl)











































