Perasaan bersalah para petani itu setidaknya terungkap saat Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat melakukan kunjungan ke berbagai daerah seperti Majelengka, Brebes, Tuban, dan Garut.
"Di sana petani bahagia, saya sempat beli 3 kg cabai dengan harga Rp 40 ribu, padahal metik sendiri. Itu belum pernah petani rasakan dibeli dengan harga segitu. Mereka ada rasa nggak enak, mereka guilty juga kalau jual dengan harga itu," ujar Rusman saat konferensi pers di kantornya, Jalan Dr. Soetomo, Jakarta, Senin (1/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cabai ini sangat rentan terhadap waktu, mereka ingin ada HPP sehingga kalau jatuh bisa diselamatkan," ujarnya.
Namun, Rusman menilai hal tersebut sulit direalisasikan mengingat cabai tidak seperti beras yang bisa distok. Sehingga harus ada industri turunan yang bisa menampung cabai yang dibeli masyarakat. Tentunya industri ini akan efektif jika masyarakat mau mengonsumsi cabai olahan. Inilah yang sulit diwujudkan karena masyarakat Indonesia lebih menyukai cabai ulekan dibanding olahan.
"Tapi memang cabai olahan ini belum customize, kita kan maunya ulekan," katanya.
Bahkan Rusman mengakui masih senang menikmati cabai ulekan dibanding cabai olahan.
"Ya tetep cabai ulekan," candanya sambil berpura-pura berbisik ketika ditanya lebih suka cabai olahan atau ulekan.
Seperti diketahui, lonjakan cabai ini juga memberikan sumbangan pada tingginya inflasi selama Januari 2011. Tingginya inflasi itu terutama disumbang dari beras dan cabai rawit dengan sumbangan inflasi hingga 0,11%.
BPS mencatat inflasi Januari 2011 mencapai 0,89%, dengan begitu laju inflasi year on year (Januari 2011 dibanding Januari 2010) mencapai 7,02%. Kenaikan inflasi yang tinggi ini disumbang oleh kenaikan harga pangan.
(nia/qom)











































