Pemerintah Siapkan Insentif Bagi Penggarap Sumur Marjinal
Senin, 10 Mei 2004 14:17 WIB
Jakarta - Pemerintah akan memberikan insentif kepada investor yang bersedia mengelola sejumlah sumur-sumur migas marginal di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat mendongkrak produksi migas nasional yang saat ini cenderung menurun. Direktorat Minyak dan Gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sendiri memperkirakan produksi minyak nasional pada 2004 kurang dari satu juta barel per hari atau sedikit di bawah target APBN sebesar 1,15 juta bph. Demikian diungkapkan Direktur Eksplorasi dan Produksi Ditjen Migas DESDM Novian M.Thaib kepada wartawan di Plaza Centris, Kuningan, Jakarta Senin (10/5)."Saat ini banyak sumur marginal, terutama di wilayah Sumatera seperti Sumatera Selatan, yang ditinggal perusahaan migas berskala besar karena dinilai tidak ekonomis. Jadi kita pertimbangkan untuk memberi insentif kepada investor yang mau menggarapnya," kata Novian.Diperkirakan, lanjut Novian, satu sumur bisa memproduksi minyak setidaknya 50 bph. Dengan jumlah sumur minyak marjinal yang banyak diprediksi jumlah produksinya pun akan besar. Sebelumnya Dirjen Migas DESDM Iin Arifin Takhyan mengakui produksi minyak Indonesia pada 2004 akan kurang dari 1 juta bph karena banyaknya lapangan tua yang tak dapat berproduksi secara maksimal. Padahal di tahun 2003 produksi minyak Indonesia bisa mencapai 1,09 juta bph atau 1,3 juta bph jika dihitung dengan kondensat. Namun demikian, Iin optimis pada 2005-2006 produksi minyak Indonesia akan meningkat secara signifikan karena sejumlah lapangan potensial, seperti Belanak (ConocoPhillips), West Seno (Unocal) dan Cepu (ExxonMobil) bisa berproduksi secara maksimal. Selain itu, pemerintah juga membuka tender 27 wilayah migasbaru pada tahun ini untuk mendongkrak produksi migas nasional. Blue Print MigasPada kesempatan yang sama Novian juga menuturkan, untuk mengoptimalisasikan produksi migas Indonesia, pihaknya tengah merancang tiga cetak biru (blue print) di sektor migas. Dengan adanya blue print tersebut setidaknya investor dapat melihat potensi migas yang dimiliki Indonesia. "Jadi kita tengah menyiapkan tiga cetak biru, yaitu cetak biru untuk wilayah kerja migas, cetak biru untuk produksi gas, cetak biru untuk cadangan minyak dan gas. Cetak biru ini setiap saat bisa diperbaiki untuk revisi. Misalnya ada hasil evaluasi baru, ada sumur yang dulu ditutup sekarang dibuka semuanya akandirekam dalam cetak biru itu," kata Novian M. Thaib.
(nit/)











































